Jalan Setapak

Aku lebih suka melewati jalan setapak. Karena di dalam lorong setapak aku bisa melihat pintu belakang lebih jelas. Mata ku bisa melihat sumur, asap mengepul, serta wajah seorang ibu yang sedang meracik bumbu penyambung hidup. Telingaku bisa mendengar suara tarikan timba dari dalam sumur, bunyi pintu yang sesering ditarik, dan suara tangisan anak-anak karena lapar. Hidungku selalu mencium aroma asap bercampur bau keringat si ibu, ditambah bau lain didalam dapur. Aku lebih suka melewati jalan setapak, karena aku bisa melihat kenyataan dibalik pintu depan. Aku lebih suka melewati jalan setapak dibanding aku melewati jalan raya, karena di jalan raya terlalu bising dan carut-marut dan serba di palsukan._Jalan Setapak. Mabapura, 3 September 2016.

Ruang yang Tersepihkan

Perampasan hak manusia dari sumber penghidupannya, membuat ruang-hidup menjadi kering dan datar. Lalu membangun ruang baru, yaitu ruang sosial penyendirian yang serba nyata pada kehidupan itu sendiri. Bahwa sekarang warna alamiah manusia pribumi sengaja dibuat luntur dari dalam. Sehingga melupakan jaringan manusia yang dulunya terbangun untuk membentuk satu ruang hidup bersama. Kini! Dengan masifnya berbagai tuturan, istilah, barang, hasrat yang dinamakan kemajuan jaman tersebut. Malah membuat manusia masing-masing mencari jalan untuk berdiri sendiri-sendiri. Maka bahasa yang enak didengar dan cepat direspon oleh sesama adalah bahasa saling hujat-menghujat, melirik sembari menatap tajam lebih sakitnya lagi kalau diomongkan dibelakang. Kesemuanya itu untuk memperlihatkan siapa yang paling berkuasa didalam wacana tersebut.

Padahal secara tidak sadar, sedang berlangsungnya proses penghancuran untuk membangun peradaban baru di “bumi manusia” ini. Semua dimasukkan kedalam kerangka pikir penghancuran sedari: sejarah-air-pangan dan energi demi memperkuat dan memperbesar sirkuit kapital tersebut. Sekarang yang paling gencar dikeruk oleh logika kapital adalah energi. Pengerukan kandungan batu bara, nikel, batu kuarsa dan lain-lain. Dengan tujuan membuat senjata yang dalam satu kali letupan bisa menghilangkan semua lapisan sosial-ekologi lama menjadi sosial-ekologi baru yang serba dirobotkan. Karena kita tahu bersama bahwa bahan-bahan kandungan dari sumber energi tidak mampuh diciptakan oleh manusia. Maka sumber-sumber energi ini sengaja dikeruk habis oleh para pembuat dunia yang serba baru ini, menjadi pegangan cadangan ketika ada perang peradaban.

Parahnya, air-pangan dan energi dipahami sebagai hasil kandungan alam yang wajib dikeruk untuk kemaslahatan manusia. Maka pertanyaannya: “kemaslahatan manusia yang mana yang menikmati hasil kandungan alam tersbut?” Pola pikir yang dangkal seperti ini, membuat manusia lupa bahwa: kekayaan alam yang sebenarnya dari Tuhan yaitu: apa yang diingini manusia dari alam bisa diambil dengan gratis tanpa ada perantara nilai didalamnya. Nilai yang dimaksud adalah tidak ada transaksi dalam bentuk material. Sederhananya uang bukan sebagai perantara untuk mengambil hasil pemberian Tuhan tersebut.

Maka, mantra-mantra pembangunan dan kemajuan manusia hanya sebagai pemantik, untuk menuju pada pembangunan dan kemajuan dari perayaan penghancuran manusia dan alamnya. Dengan sendirinya ruang menjadi sepih dan disisihkan dalam satu kerangka ruang penghilangan manusia dari sumber penghidupan itu sendiri. Tidak lagi baku-urus soal apakah di dapur masih ada tungku, air, tomat, cabe, bawang, singkong, pisang, kelapa dan ikan. Bahkan yang terjadi adalah gengsi untuk menuturkan akan sumber-sumber penghidupan subsisten bersama tersebut. Dengan bangganya mengeluarkan sepotong kertas uang dan memberi kepada pedagang baru yang masuk di kampung. Dengan begitu putaran ekonomi tidak lagi berputar di dalam kampung, malah memberi kepada orang lain dan dibawah pergi.

Bertubi-tubi dan berlomba-lomba serta bertahun-tahun pengetahuan formal diagungkan untuk mencari sepotong kertas uang untuk melayani hasrat orang lain: bukan hasrat orang kampung itu sendiri. Pengetahuan akademik dijadikan sebagai ujung tombak untuk mengatur ruang hidup bersama yang salah paham akan sosial-ekologi manusia: yang sejatinya adalah komunal bukan privat. Maka maarilah sama-sama kita kembali menuturkan kembali mengenai apa yang sudah dirampas oleh kita sendiri dan orang luar mengenai pengurusan ekonomika-kerumahtangaan bersama ini.

Malabar: 22, (Sajogyo Institute). Bogor, 20 Juni 2016.

Bumi Halmahera-Timur

IMG_4444

Oh….Bumi Halmahera Timur

Rasanya, baru kemarin engkau bertambah usia.

Rasanya, baru kemarin kami bersenggama dengan kebahagiaan itu.

Rasanya baru kemarin, benih-benihku tumbuh dari sari-sari harumnya, sagu yang dimasak oleh ibu dikala itu.

Rasanya, baru kemarin kami saling sapa-menyapa menebar senyum yang tak dibuat-buat.

Rasanya, baru kemarin kami duduk bersama untuk memanen kopra.

Rasanya, baru kemarin kami duduk bersama untuk mengepul asap didapur.

Rasanya, baru kemarin kami ingin tahu kapan ikan berkunjung di lautan kami.

Oh….Bumi Halmahera Timur

Atas nama pembangunan.

Kini kebahagiaan berpuluh-puluh tahun lamanya, digantikan dengan kesakitan yang panjang.

Iya. Rasanya baru kemarin.

Tepatnya 31 Mei hari lahirnya Halmahera-Timur tercinta.

Dengan penuh-harap yang besar.

Tentu para leluhur menginginkan lahirnya engkau, menuju pada peradaban baru yang lebih baik.

Peradaban dimana manusianya, mampuh dan tetap kokoh mempertahankan budaya yang telah lama mendarah daging.

Oh…..Bumi Halmahera Timur

Namun, harapan itu sirna  dengan lahirnya manusia-manusia baru.

Manusia yang memiliki kodrat melebihi isi perutnya.

Dengan begitu.

Amarah manusia mampuh merobek pegangan sejarah  yang telah lama dibangun oleh leluhur kami.

Kini, manusia berbondong-bondong menuju pada kekuasaan.

Mereka belarian dengan kencang, untuk menyembah kursi penuh uang.

 Oh…Bumi Halmahera Timur

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa yang paling ampuh dan jitu yaitu demokrasi.

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa kesejahteraan rakyat yang hampa.

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa money politic dan banyak janji.

Maka, untuk menuju pada  bahasa kekuasaan, harus perbanyak janji.

Oh….Bumi Halmahera-Timur betapa malang nasibmu.

Kemenangan palsu, demi menduduki kekuasaan yang rapuh.

Kemenangan palsu, demi menggenjot air mata sesama manusia.

Kemenangan palsu, demi memotong darah silaturrahhim sesama manusia.

Kemenang palsu, demi kekuasaan dan kalah bagi yang selalu benar dan berkata jujur.

Astaga….Engkau dibangun dengan pengetahuan yang dangkal!

Oh…Bumi Halmahera Timur

Atas nama ekonomi kerakyatan.

Sagu digantikan dengan beras yang bukan makanan kami.

Atas nama kesejahteraan rakyat.

Ikan bebas bermain di laut, kini digantikan dengan ikan yang dikurung didalam kaleng.

Atas nama kearifal lokal.

Budaya tarian lalayon, cokaiba dan cakalele dipentaskan dengan makna yang pendek.

Atas nama Kearifan lokal.

Budaya bertutur dan irama hidup kampung, secara telanjang menjelma menjadi budaya penjajahan.

Oh…..Bumi Halmahera Timur

Dengarlah!

Apakah ini yang dinamakan demokrasi?

Apakah ini yang dinamakan pembangunan?

Apakah…. ini yang dinamakan kemajuan ekonomi kerakyatan itu!

Oh…sungguh malang nasibmu.

Amanahmu dikhianati oleh anak buyutmu sendiri.

 Oh….Bumi Halmahera Timur

Sayang sekali politik itu buta.

Tidak bisa melihat betapa kosong kering kerontang perut si miskin.

Sayang sekali politik itu mati rasa.

Tidak bisa merasakan, betapa perihnya pulau-pulau dan tanah dikupasi, dikuliti, dikeruk, secara habis-habisan.

Akhirnya si rampok pun ikut berceloteh.

Jangan hanya tanah tetapi rampoklah  jasad mereka.

Jangan hanya air tetapi rampoklah hati mereka.

Jangan cuman sejarah dan budaya tetapi masuk lebih dalam lagi dan rampoklah qalbu mereka.

Haha…haha sungguh peradaban yang serba palsu dan lucu!

.Oh…Bumi Halmahera Timur

Dengarlah!

Sayang sekali politik itu bisu.

Tidak bisa mengatakan mana bau mana harum, mana kotor mana bersih dan mana yang benar dan mana yang salah!

Sayang sekali politik itu tuli.

Tidak bisa mendengar suara rakyat,

Tidak bisa mendengar teriakan cacing-caing meminta makanan dari perut si kaya.

Sayang sekali politik itu angkuh.

Ia tak mengenal leluhur kami.

Ia tak bisa mendengar nasehat leluhur kami.

Bahwa masa depan adalah bencana!

Bencana bagi yang melupakan sejarah.

Hey…..Camkan!

Bahwa politik hanya mengenal mana lawan mana kawan, mana kalah mana menang.

Astaga…masa depan yang mati!

Masa depan yang retak.

Masa depan yang terbelah.

Masa depan melayani hasrat yang tak ada ujungnya.

Iya. Penciptaan masa depan sejarah bunuh diri, diatas tanah leluhur sendiri!

Dasar peradaban yang dangkal!

Bogor, 3 Juni 2016, Karya Orang Biasa.

Belajar Obat Herbal Tradisional: Taman Sringanis Bogor

“Semua tanaman ada fungsi dan kegunaannya masing-masing. Cuman kitanya yang belum tahu saja.” (Tuturan: Bang Dudi,[1]  di Taman Sringanis)

Dengan niat yang sama ingin belajar tentang obat tradisional serta melihat bagaimana lahan sempit digunakan sedemikian rupa agar menjadi satu hal yang bermanfaat. Kami[2] berangkat dari Malabar (Sajogyo Institute) ke Taman Sringanis yang berada di daerah Batu Tulis Bogor, pada 21 Maret 2016, pukul 11.05 waktu Bogor. Nama Taman Sringanis ini sebelumnya saya sendiri sudah mendengar dari bang Surya Saluang cukup lama. Dan dari tuturannyalah juga membuat saya tertarik untuk pergi melihat dan belajar. Walaupun bisa dibilang baru perkenalan awal saja dan hanya dalam  hitungan jam sudah sedikit banyaknya menggambarkan tentang betapa pentingnya tanaman obat tradisional ini.

Ketika sampai di Taman Sringanis. Rasanya saya diarahkah untuk menengok kembali ke kampung yang sudah lama saya tinggali. Disambut oleh tanaman-tanaman di areal lahan sekitar seribu meter persegi. Tanaman-tanaman yang ditanami di dalam pot disertai dengan keterangan nama dan fungsinya. Membuat saya terkaget-kaget dan baru tahu juga. Pada umumnya,beberapa tanaman yang tumbuh liar di jalananan dan beberapa bunga, hanya dijadikan sebagai hiasan saja.Namun di Taman Sringanis semuanya ada fungsi dan kegunaannya. Dan saya sendiri juga baru tahu akan hal ini.

Tanaman obat-obat tradisional adalah yang dapat dipergunakan sebagai obat, baik yang sengaja ditanam maupun tumbuh secara liar. Tanaman tersebut dimanfaatka oleh masyarakat untuk diramu dan disajikan oleh obat guna penyembuhan penyakit. Pada umumnya yang dimaksud dengan obat tradisional adalah ramuan dari tumbutumbuhan yang berkhasiat obat. Tumbuhan obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu, hal ini seperti yang dikemukakan Kartasapoetra (1992 :3) menyatakan bahwa: tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Maksudnya yaitu tanaman tinggal dipetik dan diracik, kemudian langsung dikonsumsi. Sedangkan Siswanto (1997:3) menyebutkan tumbuhan obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu, tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat. Maksudnya yaitu tanaman obat tradisional digunakan sebagai bahan untuk membuat obat (bahan dasar yang untuk membuat obat).[3]

Taman herbal di Desa Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, itu dibangun pasangan Putu Oka Sukanta dan Endah dan Endah Lasmadiwati pada 1992, diatas lahan seluas 1.000 meter persegi. Saat ini terdapat tak kurang dari 450 jenis tanaman obat, baik tanaman asli Indonesia maupun luar negeri. Karena itu Taman Sringanis kerap juga disebut pusat konservasi tanaman obat. Nama Taman Sringanis sebenarnya diambil dari nama orang tua dan mertua sang pemilik: Ni Ketut Taman dan Ni Ketut Sringanis.[4]

Rasa-rasanya selama hampir lima tahun saya berada di Bogor terasa akan sia-sia. Saya tidak mengenal lagi mana tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat. Padahal di kampung pada saat itu masih kental orang menggunakan obat kampung tersebut. Dari taman ini juga melempar jauh ingatan saya waktu di kampung. Ada beberapa obat dari dedaunan yang bisa mengobati sakit gigi. Hanya ditempelkan kan saja ke pipi dan bisa sembuh. Saya sendiri juga mempunyai pengalaman pada penyakit sagit gigi ini. Sewaktu saya masih SD, ketika sakit gigi, bapak hanya menempelkan bakau kedalam gigi. Rasanya sakit sekali. Dan tak lama kemudian sembuh sampai sekarang saya tidak lagi sakit gigi. Ada juga beberapa daun yang ditumbuk dan dioleskan ke kaki yang bengkak atau bisul. Dalam hitungan hari bisa sembuh. Tanpa harus mengeluarkan biaya untuk pergi ke rumah sakit.

Sekarang. Obat herbal kebanyakan sudah disalahgunakan. Yang pada awalnya fungsi dan kebutuhannya untuk mengobati orang. Kebanyakan yang terjadi malah dirubah dan dimasukkan kedalam kerangka untuk mencari keuntungan lebih. Dari kerangka asal untung inilah kemudian obat tradisional dialih fungsikan untuk menjadi obat modern yang dibantu dengan berbagai alat tehnologi. Karena didalam kerangka untung ini sifatnya menampung kekayaan. Yang pada akhirnya memangkas habis obat-obat tradisional ini.

Walaupun sekarang persaingan dalam dunia obat-obatan begitu tinggi. Namun industri obat-obatan ini tidak berlaku bagi Taman Sringanis. Sebuah pelajaran bagi saya sendiri, berkaca dari Taman Sringanis yang sudah sekian tahun. Sampai sekarang masih tetap pada prinsipnya. Bahwa tanaman obat herbal tradisional yang harus menjadi kebanggaan bagi kami orang Indonesia.

Taman Sringanis didirikan untuk membangun sebagai wadah merealisasikan visi dan misi tentang kesehatan mandiri yang berakar pada tradisi dan budaya bangsa. Taman Sringanis berdiri berkaca pada kondisi kesehatan yang semakin terpuruk dalam sakit tanpa mengerti cara mengatasinya, ketergantungan masyarakat terhadap indutri obat-obatan, pelayanan kesehatan yang kurang menyentuh tindakan pencegahan, serta semakin terkikisnya kearifan lokal budaya berkesehatan warisan leluhur masih berdaya guna. Inilah yang menjadi visi Endah dan Putu. Keduanya percaya bahwa manusia dan alam sekitarnya mempunya potensi untuk membangun kualitas kesehatn fisik, mental dan spritual. Bahkan untuk membudayakan herbal, sang pejuang herbal ini sudah menulis beberapa buku ilmiah populer kesehatan tradisional serta kerap menyelenggarakan pelatiha untuk kelompok masyarakat.[5]

Menurut Bang Dudi dengan latar belakang Ibu Endah yang mengidap penyakit dan sudah berobat kemana-mana namun tak bisa menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian beralih ke tanaman herbal tradisional, dan terbukti menyembuhkan penyakitnya. Pada tahun 1992[6] ia mulai mengembangkan dan memadukan dari berbagai tanamanan secara alami. Taman Sringanis ini mulai dikenal dan dikunjugi oleh orang pada tahun 1998. Ada beberapa profil yang terpampang di dinding depan dan di belakang. Tercatat kunjungan mulai dari tahun 1998 sampai tahun 2006.  Sekitar 400 jenis tanaman di taman ini. Dan ketika orang mengunjungi ke taman kata mereka unik, begitu juga dengan saya sendiri. Melihat prospek ini Taman Sringanis sejak tahun 1998 menjadikan kebun obatnya menjadi agrowisata yang menawarkan objek wisata yang unik dan menarik berupa wisata kebun tanaman obat. Rekrasi yang ditawarkan adalah rekreasi yang bersifat pengetahuan dengan mengenali dan mempelajari jenis-jenis tanaman obat disajikan dalam bentuk seminar kebun dan senam kebugaran yang terdapat dalam peket agrowisatanya.[7]

Banyaknya tanaman di halaman rumah bisa menghilangkan rasa jenuh dan stres. Ketika masuk kedalam areal penghijauan, energi dari tanaman yang masuk kedalam tubuh. Rasa-rasanya indah nan sejuk. Seperti tidak ada masalah. Bahwa ada energi lain antara manusia dan tumbuhan. Saling keterhubungan satu sama lain. Seperti yang dituturkan oleh bang Dudi:

“Semua tanaman mempunyai beberapa energi. Salah satunya tanaman andong merah ini. Tanaman ini biasanya juga disebut dengan tanaman anti maling. Dan tanaman ini juga biasanya ditanami di depan rumah. Misalnya ketika kita bepergian dan meninggalkan rumah agak lama. Tiba-tiba ada maling, pasti dari tanaman ini mengeluarkan energi penolakan terhadap si maling tersebut. Dan si maling sendiri akan merasa tidak nyaman untuk masuk kedalam rumah. Di sisi lain apa bila si maling sampai masuk kedalam rumah dan mencuri berarti energi si maling lebih besar dari tanaman andong merah tersebut.”

Ia juga menuturkan ada tanaman anti petir. Saya sendiri juga belum sempat lihat bentuk dan rupa tanaman ini. Katanya mereka juga sering dikunjungi oleh orang PLN, untuk mencari tanaman ini. Biasanya tinggal diambil batangnya lalu ditaruh atau digantung di areal PLN. Dan terbukti dari orang PLN sendiri yang bilang kalau tanaman ini benar-benar berfungsi. Apabila turun hujan PLN tetap aman-aman saja, tidak tersambar petir.

Petugas Taman Sringanis ini juga bercerita bahwa ada tanaman yang namanya Sambiloto.[8] Alkisah di Candi Prambanan salah seorang raja sedang sakit. Dan Hanoman lah yang disuruh untuk mencari obat tersebut. Obat ini tumbuh liar di daerah pegunungan. Hanoman sendiri tidak mengetahui bentuk dan rupa obat tersebut. Ia kemudian memangkas gunung dan membawanya ke candi Prambanan. Ia juga mengatakan pernah ada ahli obat dari negara Cina. Ia awalnya membaca di internet bahwa ada tanaman yang namaya temu kunci. Dari keterangan di internet tersebut bahwa tanaman ini berada di Taman Sriganis Bogor. Ia kemudian bela-bela datang dari Cina hanya untuk melihat bagaimana temu kunci ini. Bukan tanpa alasan, konon katanya yang diceritakan dalam film Sangkuriang. Ibu Sangkuriang selalu mengosumsi temu kunci sehingga aura kecantikannya, membuat anaknya sendiri tidak sadar kalau perempuan yang ia sukai adalah ibunya sendiri. Dari cerita inilah si ahli pengobatan Cina ini bela-bela datang dari jauh. Katanya obat ini untuk obat herbal kecantikan perempuan Cina.

Yang uniknya ada satu tanaman yang mengundang rasa penasaranku. Namanya “pacar jawa”. Kalau dikampung saya namanya laka. Tanaman ini biasa dikampung diambil daunnya lalu ditumbuk. Dan diarsir ke kuku kaki dan kuku tangan tak lama kemudian kuku akan berwarna merah. Funsinya setahu saya cuman untuk pewarna kuku saja sewaktu di kampung. Namun ketika saya beranjak dari kursi dan mendekati tanaman ini. Tertutulis keterangan bahwa tanaman ini mempunyai sifat dan fungsinya. Tanaman dengan bahasa latinnya Lawzonia alba lamk, lawzonia inemist. Mampuh mengobati anti radang, peluruh haid dan melancarkan peredaran darah.

Tumbuh-tumbuhan begitu banyak dan kaya tumbuh liar diatas tanah Nusantara ini. Melirik kebelakang lebih jauh Maluku menjadi salah satu pusat perdagangan dunia.Begitu kayanya alam hayati sampai membuat seorang Alfred Wallace yang sangat cinta dengan alam. Pada tahun 1870-an ia datang ke Kepulauan Maluku. Hanya dalam hitungan hari ia sudah dapat sekitar 30 jenis kupu-kupu dan hampir 9.000 jenis tumbuhan. Ia mengutip dalam kitab Torah “bahwa inilah tanah yang dijanjikan.”

Tumbuhan Cengkih menjadi salah satu incaran para pedagang eropa. Tumbuhan ini kebanykan tumbuh di tanah Maluku. Sebelumnya pada abad  keempat, pemimpin Dinansti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap yang mendekatinya untuk sebelumnya mengunyah cengkih, agar harumlah napasnya. Cengkih, pala dan merica sangatlah lah mahal pada zaman Romawi. Cengkih menjadi bahan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkih dengan perjanjian Todersillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian sultan Ternate. Orang Portugis membawa banyak cengkih yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkih sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkih akhirnya di dominasi oleh orang Belanda pada abad  ke 17. Dengan susah payah orang Perancis berhasil membudayakan pohon cengkih di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Barasilia dan Zanzibar. Pada abad ke-17 dan  ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor. Sebab disana cengkih dijadikan salah satu bahan makanan yang sangat berkhasiat bagi warga dan sekitarnya yang mengosumsi tanaman cengkih tersebut. Sampai sekarang cengkih menjadi salah satu bahan yang diekspor keluar negeri. Didalam bunga dan buah cengkih juga mengandung bahan aktif. Terdapat minyak esensial dari cengkih mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkih sering digunakan untuk menghilangkan bau napas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkih yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenagkan saraf gigi. Minyak cengkih juga digunakan dalam campuran  tradisional chojiyu (1% minyak cengkih dalam minyak mineral; choji berarti cengkih; “yu berati minyak) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang meraka.[9] Saya sebagai anak yang berdarah Maluku merasa malu. Kalau tidak tahu -menahusoal sejarah kekayaan alam di Maluku ini.

Dari cerita diatas,bahwa tanaman tradisional lah yang paling ampuh untuk penyembuhan berbagai penyakit serta membuat tubuh selalu segar dan awet. Mengutip bang Dudi bahwa; “semua tanaman ada fungsi dan kegunaannya masing-masing. Cuman kitanya yang belum tahu saja.”

Sebuah pesan dari bang Dudi kearifan budaya tradisional harus diangkat lagi. Menurutnya kebanyakan orang senang dengan obat-obatan indutsri yang serba instan. Yang sudah dicampuradukkan dengan beberapa zat kimia. Ini sangat berbahaya, karena ada beberapa tanaman obat, apabila kita pisahkan satu-satu malah bisa menjadi racun. Didalam tanaman mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang bisa mengusir dingin, panas, racun dan virus. Dan tanaman ini tidak mengandung karakter zat kimia.

Mengutip Surya Saluang “apabila obat herbal tradisional di kampung hilang, maka ruang hidup kampung juga akan hilang.”[10] Dengan brutalnya pemangkasan hutan yang terjadi hampir disetiap kampung. Dimana didalam hutan tumbuh segala macam tumbuhan. Salah satu pegangan bagi orang kampung yaitu tumbuhan dan segala macam obat nabati-hewani, perlu dijaga dan selalu dirawat. Obat tradisional menjadi alas penting bagi kehidupan yang panjang. Khususnya di kampung-kampung yang masih jauh terjangkau oleh rumah sakit. Saya kira dengan melihat kembali dan mempelajari lagi obat-obat tradisional di kampung masing-masing, agar bisa menjadi satu kegunaan yang utuh. Tanpa harus bergantung, antre dan menunggu dokter siapa yang akan datang menyembuhkan pennyakit kita.

Pekerjaan besarnya bagi kami yang akan pulang kampung. Dari pengalaman sepintas belajar di Taman Sringanis ini. Harapannya yaitu kami bisa pulang ke kampung dan gali lagi nama-nama obat tradisional dan mengenalnya secara langsung di kampung kami masing-masing. Bukan cuman menggali dan mengenanlnya tetapi kemudian diterapkan. Melihat tanaman-tanaman di Taman Sringanis ini. Membuat saya termotifasi ketika pulang kampung nanti akan belajar lagi tentang obat tradisional di kampung saya sendiri.

Malabar: 22 Bogor, 25 Maret 2016 (17.13 WIB)

 

 

 

 

[1] Bang Dudi adalah salah satu petugas di Taman Sringanis. Awalnya pada tahun 2004 ia bersama teman-temannya melakukan kunjungan dan sempat bekerja sama dengan Taman Sringanis ini. Dari beberapa temannya ia sendiri yang menetap di taman Sringanis, sampai sekarang. Ia sekarang mengurus bagian administrasi, seperti menulis dan mencetak buku-buku tanaman herbal. Melalui pendekatan dan kosep karakter tanaman ia juga banyak tahu tentang sifat dan fungsi dari tanaman tersebut.

[2] Kami dari berbagai Daerah. Saya dan Ibu Sariwati dari Kabupaten Halmahera Timur (Buli-Mabapura), Ojil dari Halmahera Utara (Tobelo), Abal dari Kabupaten Taliabo. Nama-nama daerah ini berada di Propinsi Maluku Utara. Uthin dan Ardi berasal dari Daerah Kabuaten Banggai, Sulawesi Tengah dan Iham berasal dari Jawa Timur.

[3] Sumber: http://infoobattradisonal.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-dan-macam-macam-tanaman-obat.html. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016

[4] Sumber: http://www.indoplaces.com/mod.php?mod=indonesia&op=view_region&regid=1634. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016.

[5] Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/27/408/418539/mereguk-khasiat-herbal-di-taman-sringanis. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016

[6] Taman Sringanis berlokasi di Cimanegah No.29 Rt.04/05, Cipkau, Bogor Selatan, Bogor. Letaknya yang dekat di dekat Gunung Salak membuat Taman Sringnis terasa sejuk. Meski mungil, taman dengan puluhan koleksi tanaman herbal ini sudah dikunjungi ribuan orang sejak dibuat pada 1992. (Sumber: Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/27/408/418539/mereguk-khasiat-herbal-di-taman-sringanis. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016)

[7] Lihat: Luther Masang dalam tesisnya, “Strategi Pengembangan Agrowisata Obat Tradisional Taman Sringanis Bogor.” Hal.26.

[8] Sambiloto (Andrographis paniculata) memiliki sifat melindungi hati (hipoteraktif) dan terbukti mampu hati dari efek negatif galaktosamin dan parasetamol. Selain berkhasiat melindungi hati, sambiloto juga dapat menekan pertumbuhan sel kanker. Selain itu khasiat sambiloto untuk pengobatan ini sudah diketahui sejak nenek moyang kita. Biasanya pemanfaatan sambiloto dengan merebus daunnya untuk menurunkan demam, mengobati luka, sakit kuning, kencing manis, pilek, infeksi tenggorokan, saluran kemih, keputihan, menyembuhkan luka/borok dan sebagainya. (Sumber: http://infoobattradisonal.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-dan-macam-macam-tanaman-obat.html. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016).

 

[9] Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pertengahan. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016.

[10] Dalam catatan harian, A.Maneke pada 13 Maret 2016 (16.33 WIB). Bacarita agenda untuk pergi ke Taman Sringanis sewaktu masih di Malabar:22 Bogor.

Proses Menuju Nol

Maaf cara membaca saya masih kaku. Cara menangkap dan memberi kesimpulan masih sangat lambat. Cara aku menuangkan, cara penglihatan untuk mengngungkapkan,dan cara belajarku masih saja datar. Datar dan kering lalu pekat dari isi buku yang pernah aku baca. Aku masih takut pada penilaian orang daripada penilaian terhadap diriku sendiri. Untuk apa juga buku dibeli hanya tersusun dan jarang sekali lembar buku itu dibuka. Bahkan ada yang tak sempat aku buka untuk dibaca. Ada satu tuduhan terhadap diriku sendiri; apakah buku itu sengaja dibeli dan disusun dirak buku hanya demi mendapatkan pujian dari orang? Atau sengaja buku dibeli untuk diperlihatkan sekiranya aku rajin membaca dan belajar? Atau hanya hobi mengoleksi lalu menyusunnya seperti batu bata diatas rak itu? Disatu sisi pujian itu seperti tong sampah yang setiap saat diserbu oleh lalat.

Tetapi pertanyaan sederhana itu mengundang batinku untuk berdiskusi. Bukan saja untuk mengetahui siapa diriku namun perlu mengetahui siapa aku. Apakah perlu dicambuk? Siapa yang dicambuk? Kenapa harus dicambuk? Bukankah belajar dan memahami satu pengetahuan atas kemauan kita sendiri? Apakah memang belajar perlu seorang Guru? Ataukah belajar hanya dengan pengalaman saja? bukankah pengalaman adalah guru yang hidup? Tentu guru dan pengalaman harus berjalan seimbang. Mengutip Sajogyo dalam bukunya Ekososilogi “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (ilmu itu terbangun laksana oleh karena praktik perbuatan).[1] Bahwa ilmu itu bukan datang hanya kala teori yang terpaku dalam pikiran lalu diomongkan lewat mulut saja. Namun yang paling penting tentu pengalaman, kelima panca indra harus terbuka dan merasani, dipegang langsung, digosok-gosok sampai panas perlahan keluar asap dan terpantik api. Jangan tanyakan padaku jikalau suatu ketika api itu padam karena aku yang menyiraminya; semangat belajar yang bersifat panas tahi ayam.

Seperti mengutip cerita dalam buku “Bumi Manusia” yang ditulis oleh seorang sastrawan Indonesia Pramoedaya Ananta Toer; percakapan antara Magda Peters[2] dan Nyai Ontosoroh[3] dalam sebuah perpustakaan Herman Millema[4]. Magda Peters menanyakan kepada Nyai Ontosoroh “Kenapa didalam perpustaakaan ini tak ada satupun Sastra Belanda?” Tuannku tak terlalu tertarik, kecuali orang-orang Vlaam[5],” jawab Nyai. “Apa sebab Tuan Millema tak suka pada karya-karya Belanda,kalau boleh bertanya?” Tak tahulah Jeffrow hanya ia pernah bilang, terlalu kecil mengecil, tidak semangat, tidak ada api”. (Lihat halaman 344-345)

Saya menyimpulkan sementara; bahwa belajar itu butuh ketertarikan dan tujuan tentang apa yang kita sukai. Maka hal kecil kemudian membesar lalu timbul semangat seperti si jago-merah yang siap membakar apa saja ketika angin terus-menerus mengelus, lalu semangat belajar menjadi satu pengetahuan yang utuh kalau itu kita yang agendakan sendiri. Mungkin agak jauh dan tidak masuk akal dari turunan cerita ini. Entahlah saya mencoba saja.

Istilah-istilah yang kupakai bersifat melatah, tak tahu apa tujuan dari istilah itu. Apakah untuk memperjual belikan kata-kata? Mengutip Hendro Sangkoyo[6] setelah didengar dan ditulis mungkin; “ketika kita lupa akan sejarah dan istilah kampung kita sendiri. Maka ini adalah suatu peristiwa yang dramatis, sekali terjadi lenyap sudah. Hilang dari proses sejarah bahasa orang kampung, malah kita bangga akan dengan istila-istila kebarat-baratan tanpa kita pahami apa maksud dan isi dari istilah tersebut. Yang terjadi malah kita hanya belanja kata-kata ( discourse shooping).”[7]

Mengkomsusi istilah membuat saya kalah akan memunculkan kemandirina kata-kata saya sendiri. Apakah ketika aku tak banyak hafal atau menguasai banyak istilah keren, yang biasa dipakai oleh para aktifis, dosen, mahasiswa atau para pemberontak dan haus akan ilmu lainnya,saat itu juga aku akan dianggap kuno kampungan? Saya juga tidak tahu dan tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan saya sendiri.

Semua hanya menjadi perdebatan sesaat. Bukan! Bukan sesaat tetapi seterusnya selama saya masih lemah memarahi diriku yang lemah dan tak mampu keluar melirik dunia dan menuliskannya. Menuliskannya! Dan menjadi bacaan buat saya sendiri. Tak perlu diperdebatkan oleh oleh orang lain siapa aku. Tentu akan sulit dan sukar untuk memahami hati orang jikalau mengenalnya hanya dari cerita orang atau hanya melihat sampul terbungkus kulitnya atau juga hanya sesekali mendengar pikirannya yang masih samar (kabur). Entah lah tak mampu juga aku terkjemahkan.

Diam-diam ku-tertawakan dengan pikiranku sendiri. Diam-diam ku-perkosa tubuh ini sendiri dengan kemauan yang belum tentu terjadi. Diam-diam saya menelanjangi sifat-ku sendiri dan menontonya dari balik cermin. Lalu diam-diam aku malu pada diriku dan bertanya siapa diriku? Untuk apa saya dilahirkan dan untuk siapa aku numpang bercerita berbagi beban?

Cukup dengan diam saja. Kata-kata itu memukul dari dalam. Menghinaku dari dalam serta meludahi atas pikiranku yang kuno dan kampungan? Siapa yang bilang tak sekolah maka dijuluki sebagai seorang buta huruf atau kampungan? Julukan itu kiranya dulu. Dulu saja! Dan memang lebih baik sekarang tak perlu sekolah untuk mengejar membaca-menulis-menghitng (3M). Jikalau pada akhirnya pengetahuan itu disimpan dalam tabungan di bank sana. Pengetahuan yang mana yang saya bicarakan. Tentu pengetahuan yang belum pasti, pengetahuan dari tubuh orang lain dan dipasangkan secara paksa pada tubuhku sendiri.

Meraung-raung, mengaung, menggongong, menangis, tertawa dan marah. Itu menjadi satu-kesatuan yang selalu melekat pada tubuh seorang manusia. Meraung karena dunia selalu melirik sifat ini yang berlaga. Sok tahu! Mengaung dikala rembulan datang menyampaikan kalau kelaparanku dibuat-buat. Menggongong karena ada yang lebih cerdas dan tajam. Menangis bukan karena kehilangan orang yang disanyangi tetapi karena hilangnya sifat manusianya yang alami. Tertawa karena lucu dengan sifat yang sombong akan kemelatahan pengetahuan dan marah ketika diberi nasehat oleh orang yang mempunyai kerendahan hati melebihi diriku.

Sayang! Aku sekarang tidak tahu kemana kapal yang membawa pikiran dan cita-citaku akan berlabuh. Biarlah kapal itu terus mengelilingi samudra sampai ia merasa muak dan jenuh lalu berhenti  di dermaga karena pintanya angin. Entah terdampar di pesisir bumi manusia mana saja. Disitulah; mungkin akhir kesimpulan sementara dari cara bacaku yang masih secuil debu, hilang ketika angin menyambar.

Aku sadar bahwa pengetahuanku belum sampai pada angka 0. Masih dalam proses. Ya proses menuju 0. Sekiranya perlu lebih banyak belajar lagi untuk memahami kenapa angka nol bentuknya bukan bulat tetapi lonjong? Atau memang bulat? Atau memang lonjong? Bisa jadi kotak? Jangan dulu bertanya tentang angka nol, yang menjadi pertanyaan inti adalah siapa aku, dan kenapa aku harus mempertanyakan kenapa aku harus belajar? Apa yang akan aku dapat dari membaca dan melakukan hal-hal dalam yang bentuknya tulisan, dibaca lalu menulis? Apa pentingnya menulis?

Mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Surya Saluang ketika belajar menulis di Malabar:22 (SAINS). Setelah ku-dengar lalu ku-tulis. Mungkin begini;

“Perlu diingat dan dipahami bahwa; menulis yang kita  belajar bukan seperti menulis yang ada di kampus-kampus atau tulisan yang nantinya terkenal. Pencaplokan tulisan orang dalam menulis adalah orang yang memperdaya pikiran yang kacaunya sendiri. Rata-rata kita di Indonesia dalam menulis masih menggunakan bahasa Ibu. Menulis seperti ini adalah “kekayaan teknik” dalam menulis. Perlu dipertahankan, tinggal dibina lebih dalam lagi, pasti menimbulkan suatu tulisan yang berbeda.

Menulis adalah sikap hidup dan menstrukturkan pikiran. Menulis sama baiknya seperti kita memasak didapur, dari proses memotong tomat, cabe, bawang, kemudian diamasukkan kedalam wajan yang sebelumnya sudah dipanaskan dengan minyak goreng, kemudian diaduk-aduk sampai matang, dikasih bumbu perasa, diangkat ke atas mangkok serta dihidangkan diatas meja.

Menulis adalah sikap hidup yang kita lalui sehari-hari. Kebanyakan kebiasaan kita dalam menulis, masih terjebak pada istilah-istilah yang kita sendiri tidak paham. Menulis sangat penting sama halnya seperti seorang tukang bangunan; Ia tidak belajar bagaimana cara memukul palu yang baik dan benar. Namun karena kebiasaan si-tukang adalah memukul palu ke paku, pada akhirnya walaupun Ia tidak melihat palu pada saat memukul ke paku tersebut namun tangannya jarang sekali untuk terkena palu[8].”

Tentu menulis sangat penting. Dengan menulis kita bisa menata pikiran, menantang dunia, menggemgam dunia dan bisa menjadi siapa saja. Maka dengan menulis aku akan menjadi kaya akan pengetahuan. Bukan kaya akan uang!  Lantas untuk apa semua itu ditulis? Setidaknya untuk menulis sejarah hidupku sendiri. Setidaknya menjadi satu tanda goresan untuk hidupku yang hanya satu kali ini. Sayang kalau tidak menulis maka tak sampai-samapilah aku pada angka nol tersebut.

Asrama IPM-HT Bogor, 6 Februari 2016 (-05.51WIB)

 

[1] Ekososiologi, Deidologisasi Teori Restrukturisasi Aksi. Kata Pengantar “Dasa Windu Guru Besar Sosial”. Hal. vi

[2] Guru Sastra Belanda Mynke di sekolah H.B.S (Dikisahkan dalam cerita Bumi Manusia)

[3] Ibu Annelies Millema (Perempuan yang memiliki paras kecantikannya melebihi Ratu Wilhelmina) Diceritakan dalam buku.

[4] Suami tidak syah dari Nyai Ontosoroh, ayah Annelis. (Diceritakan dalam buku)

[5] Belanda bagian selatan, bergabung dengan Belgia dan menjadi bagian utara Belgia (Masih kutipan dalam buku)

[6] Pelajar di Sekolah Ekonomika Demokratik.

[7] Waktu presentasi catatan lapang, Hendro Sangkoyo menjadi penanggap (ekspert rivew). Di Malabar:22 Sajogyo Instute pada 28 Januari 2016.

[8] Sayangnya saat itu saya tidak sempat menulis tanggal dan jamnya.

Sepintas Saja

Semua menjadi kering dan pekat. Film satu demi satu telah kutonton. Bicara dari hal baik sampai buruk telah aku alami, dengar dan rasa. Dari kaya sampai miskin dan termiskin telah aku lihat dalam film dan dibuku bacaan. Entah itu semua nyata atau hanya fiksi aku tak tahu. Semua menjadi datar, saling menatap dan melirik satu sama lain dengan penuh-harap kemudian berubah tajam. Saling memenjarakan hati-pikiran-jiwa. Tatapan itu seperti tatapan elang, yang ditatapnya kembali meradang dalam jiwa, seakan kedua bola mata keluar dan terkadang masuk kembali ke hati.

Kesedihan dan kesenangan hanya terjadi pada saat-saat pertunjukan, dari cerita siapa dan kisah siapa yang diceritakan. Kebahagiaan bukan kebahagiaan bersama lagi, tetapi kebahagiaan palsu. Pada akhirnya masing-masing lupa dan mempertahan diri untuk hidup terus kedepannya. Hidup terus kedepan, kebelakang hanya pengulangan kisah, kejadian dan pengalaman. Tetapi hidup tetap berjalan tanpa ada kesepakatan.

Waktu tak mengenal dan tak sudi untuk berhenti sejenak. Waktu tak mengenal siapa yang paling berkuasa, tak mengenal mahluk hidup mana pula mempunyai kerajaan sampai-sampai menongka langit. Waktu tak kenal mana hewan mana manusia, mana kaya mana miskin, mana kenyang mana lapar, mana baik mana buruk, tak kenal mana pelacur mana hijab, mana ustad mana preman, tak kenal mana presiden mana rakyat, mana sekolah mana gubuk. Ia akan terus berjalan seperti sifatnya air yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah.

Sampai suatu waktu, waktulah yang menjadi penentu hidup kedepan dan mematikan semua impian kita, ketika sampai pada alam ketiga, jiwa direnggut oleh Yang Maha Pencipta. Saat itu juga waktu menjadi sejarah penting yang perlu diceritakan dan dihidupkan kembali melalui mata, rasa, pendengaran, penciuman dan pikiran bagi pendengar-pengedar masa lalu dan yang akan datang.

Asrama IPM-HT Bogor, 5 Februari 2016 (-11.20 WIB)

Siapa Sangka

Di dalam kamar ini kutunduk mukaku pada waktu dan Penguasa alam. Semua dalam pikiran menjadi basi hanya pengulangan kata, penglihatan, pendegaran, peraba, perasa dan pemikiran yang benar namun hanya jalan ditempat saja. Semua terasa pahit dan manis bagaimana itu sajikan dan dituangkan dalam imajinasiku. Aku tak menyuruh waktu untuk menulis dan membaca siapa aku, tapi kau hanya manusia biasa yang diciptakan oleh waktu bagi Penguasa alam.

Lemari itu menatap padaku penuh menghina-dina. Bukan tanpa alasan karena ketidakberdayaan yang kau dan aku ciptakan sendiri. Ia terkadang berdiskudi dengan beberapa pakaian yang tertata rapi oleh pikiran ku, disatu sisi ia mencapkkan ku dengan pakaian yang berantakan dibawahnya. Dinding kamar dan lantai menjadi wadah sesaat untuk menyaksikan tingkahnya dan tingkahku. Kasur menjadi pengalas bisu hanya menanggung dan memenjarakan jiwanya.

Aroma dan asap bakau hanya sebagai pemuas nafsu untuk melakukan hal yang tak pasti. Tak ada masa depan dan tak ada masa akhir. Tak juga memulai dan juga perintah untuk membuat satu titik. Siapa yang memulai itu semua, kalau bukan diri ini yang lemah pada penguasa dirinya yang bukan dirinya. Pemikiran kritis kau dan aku hanya dipertontonkan kalau itu dibutuhkan dan sengaja dilampiaskan untuk menghapus jejak yang tak ada akarnya.

Apalagi buku bacaan dengan kata demi kata, alinea demi alinea dan lembar demi lembar hanya untuk menyimpulkan; sebuah puisi tak terhingga dan tetap abadi kalau dikenang dan diulang terus-menerus. Bangga pada tulisannya atau pemikirannya? Siapa tahu kelak engkau dan aku menjadi satu pembicaraan yang hina dan dikemudian hari, cerita itu diincar dan dijadikan sebuah modal bagi yang lapar akan kekuasaan.

Semua itu dibungkus dan diikat dalam sebuah piring untuk disajikan buat harimau dan buaya. Air sabun menjadi satu kata untuk menyucikan dirimu dan diriku kembali. Makanan tak bergizi menambah sedikit tenaga untuk mendengarkan kisah engkau dan aku. Siapa sangka kalau itu semua menjadi bahan tertawaan buat mereka yang tak mengerti mana pahit mana sulit.

Semua menjadi abadi jikalau kita sama-sama paham bahwa tak semudah dan segampang perjalan dunia ini dengan apa yang kita pikirkan. Hanya akan menjadi beban ketika itu tak dihadapi dengan lapang dada. Semua itu akan menjadi garing lalu pekat, lidah yang bilang; ketika dipadukan dengan nada, cerita lucu dan aroma pembangkit hasrat bagi manusia. Siapa sangka ini akan menjadi pengingat sejarah bagi diriku sendiri dan beberapa iblis sebagai pengulangan perjalanan lalu itu. Siap sangka sampai pada titik kejenuhan ini.

Asrama IPM-HT Bogor, 5 Februari 2016 (-11.58 WIB)

Meraba-Membaca dan Menulis

Dengan Membaca Aku bisa Melihat Dunia

Begitu juga dengan Menulis Aku bisa Menjadi siapa saja

Selama Aku masih bisa membaca dan menulis

Selama itu juga Aku akan berceloteh dengan Bom Pengetahuan

Kata orang buku adalah jendela pengetahuan atau jendela Dunia. Iya. Memang benar. Siapa yang mengatakan itu? Tentu orang yang mencetusnya terlebih dulu. Ini adalah satu momok dimana kita tidak sadar untuk mengkaji sebuah pengetahuan untuk membongkar: apa yang dimaksud tulisan dalam buku itu.

Perlu di latih. Perlu membaca….baca…memang harus membaca untuk menggenggam dunia. Aku sadar dalam membaca dan menulis butuh kerja keras, keuletan dan kedisiplinan. Butuh proses panjang. Harus diulang-ulang. Maksudku harus menjadi kerja harian.

Ketika aku membaca buku. Aku sangat kagum dengan para penulisnya. Tentu mereka adalah orang-orang pekerja keras. Membaca tanpa menulis akan membuat rasa bumbu pengetahuan menjadi hambar. Membaca dan menulis adalah kata kerja. Kerja yang harus di latih terus-menerus. Aku bisa katakana dengan bahasa agak kasar “harus dipaksa, terpakasa akhirnya menjadi suatu kebiasaan”. Ketika ada pertanyaan: belajar ko terpaksa. Kenapa tidak selama itu hal posistif.

Bukan cuman belajar dalam membaca dan menulis. Tapi perlu didiskusiakan (bacarita) dengan teman-teman. Agar apa yang dibaca tidak berhenti pada satu orang saja. Ini dengan maksud agar “torang bikin suasana balajar dalam asrama.”[1]

[1] Kami membuat suasana belajar dalam asrama

Mata-mata di depan FKIP Pakuan Bogor

Tanggal 23 September. Kutaksir pukul 13.32 waktu Bogor. Tepatnya Aku, Opan dan Ka Geri duduk di depan Fakultas Keguruan Universitas Pakuan. Dua gelas kopi kapal api dan setengah bungkus rokok magnum. Opan dan Ka Geri awalnya masih asik menindik hendphone pintar mereka. Aku hanya duduk dan melihat bagaimana Mahasiswa dan Mahasiswi mondar mandir. Ada yang menuju kelas dan ada yang sekedar duduk saja. Sama seperti kami.

Kampus ini memang banyak perempuannya. Dan mereka semua bisa dibilang gelis pisan eui. Di belakang kami ada anak sekolah latihan bernyanyi. Dipandu oleh Ibu guru mereka. Aku juga tidak tahu kenapa mereka latihan bernyanyi di kampus. Dari lantai atas FKIP terdengar ada yang bernyanyi juga. Aku menduga mungkin ada seminar atau semacam acara oleh mahasiswa FKIP.

Aku kenal kampus ini sudah cukup lama juga. Sekitar empat tahun lebih. Dari perempuan yang memakai rok panjang, rok pendek, lengan panjang, lengan pendek berjilbab dan tidak berjilbab semuanya cantik-cantik. Aku juga bisa bilang kampus ini perempuannya lebih banyak dari laki-laki.

Dibelakang kami duduk. Banyak sekali motor diparkiran. Dan memang banyak. Sampai penuh ke dalam lapangan basket. Ada beberapa gedung yang direnovasi. Perempuannya memang mengundang hasrat laki-laki ketika mata sepintas menatap mereka.

Aku dan Ka Geri hanya bersuara membayangkan bagaimana kalau mereka duduk disamping kami. Tidak lama kemudia aku melihat Dasep dan kawan-kawannya. Kami bertiga panggil bersamaan.

“Dasep..Sep..Dasep.”

Di belakang dasep juga ada beberapa mahasiswi. Mungki sekalas dengan Dasep. Aku dan Ka Geri melihat salah satu dari mereka.

“Namanya siapa?” Tanya Ka Geri kepada Dasep.

“Panggil saja Anggi” kata Dasep.

Perempuan yang kami taksir ini lewat disamping kanan kami bersama kawannya yang lain.

“Anggi…Anggi…Anggi…” Ka Geri memanggilnya.

Namun tidak ada reaksi dari cewe yang dipanggil namanya ini. Aku agak kesal juga karena Ka Geri memanggilnya terlalu pelan. Bagaimana dia mau mendengar. Aku mengoceh dalam hati.

“Sep ko dia nggak nengok?” Tanya Ka Geri kepada Dasep. “Namanya siap sih? Tanya Kageri lagi.

“Agni…”kata Dasep.

“Oh Agni bukan Anggi” kataku.

Namun cewe yang bernama Agni sudah tidak terlihat lagi.

Tiba-tiba terlihat si Risma dan empat kawannya juga lewat. Risma juga kena tilang oleh Ka Geri. Risma menegur Opan dan menuju kepada Ka Geri. Mereka salaman. Namun kelihatannya si Risma buru-buru.

“Aku buru-buru ni Bang, aku mau buat tugas” kata Risma.

Namun Ka Geri masih saja menggenggam tanganya. Dan si Risma akhirnya duduk jongkok berhadapan dengan Ka Geri.

“Ade Kaka pung roko su abis ini” kata Ka Geri.

“Ah aku dipalangin” sambil mengeluarkan uang Dua puluh ribu dari dalam tasnya. Kemudian Risma pergi menghilang.

Dasep disuruh untuk membeli rokok sampoerna mild sepuluh ribu rupiah. Namun karena aku dan Opan belum makan siang.

“Bagaimana kalau beli roko sepuluh ribu saja. Nanti sepuluhnya  lagi torang beli makan.” Kata Opan. Ka Geri hanya menjawab “terserah”.

“Bagaimana kalau sepuluh ribu beli makan dan sepuluh ribu lagi kita main PS saja”. Kataku. Opan mendengus mendengar perkataanku.

Akhirnya si Dasep pergi membeli rokok dengan harga sepuluh ribu. Dasep sudah sampai di ujung FKIP.

“Woe bilang Dasep bali roko sepuluhribu saja” Opan menyuruh kami. Namun suara Ka Geri yang terlebih dulu meneriaki Dasep.

“Dasep…beli sepuluh ribu saja. Iya Bang” Jawab Dasep dari ujung sana. Tidak lama kemudian datang juga si Dasep.

Waktu menunjukkan puku 14.38. Kami keluar meninggal tempat tongkorangan itu. Di tempat ini Dasep masih saja duduk. Kami pamit kepada Dasep. Ada salah satu geulis memakai baju berwarna orens perpaduan dengan warna putih. Memakai rok yang sangat pendek. Dengan belahan rok di samping pahanya. Justru dari belahan rok ini mengundang para laki-laki untuk membayangkan bagaimana isi dalam roknya. Dan bajunya yang sangat ketat. Sampai buah parfumnya montok sekali. Tali behanya agak timbul saking ketatnya baju yang di pakainya

Aku dan Ka Geri dari belakang. Opan memakai motor. Kami melewati jalan yang disampingnya berjejeran motor-motor di sepanjang depan Fakultas Ekonomi. Memamg cuman satu-satunya jalan ini saja yang bisa dilewati mahasiswa dan mahasiswinya. Begitu juga dengan kami. Di depan kami ada beberapa wanita begitu juga dengan wanita yang berpakaian seksi ini. Bukan cuman dia saja namun banyak sekali yang bertabrakan di lorong parkiran motor.

“Bom dia …bom dia.” Kataku dari belakang.

Ka Geri hanya tertawa saja mendengar perkataanku. Kami berjalan keluar sampai di depan tempat biasa kami duduk dan ngopi-ngopi. Aku meminjam motornya Opan. Motornya Opan bernomor plat F. 3346 . DD. Aku menuju asrama. Maksudku mau mengantarkan Zia ke kayu manis. Sampai di asrama di ruang tamu ada Bapaknya Ais dan seorang Ibu. Aku sampai sekarang tidak tahu ibu itu siapa. Bapaknya Ais baru datang tadi malam. Aku menuju kamar. Di dalam kamar Zia tidur. Zia terbangun mendengar suaraku.

“Jam berapa ke Kayu Manis?” Tanyaku.

Zia hanya menjawab dengan mengangkat empat jari. Aku sudah tahu maksudnya jam empat sore baru berangkat. Aku melihat leptop diatas lemari buku. Aku tertarik untuk menulis kisahku hari ini.

Kehilangan Motor

Rasa tertuduh dan menaruh curiga terhadap dirinya sendiri  semakin besar. Karena ketika ketahuan motornya bang Iham hilang. Bersamaan dengan datangnya Olan di SAINS. Rasa curiga dan tertuduh ini Olan sendiri yang merasakanya. “Jangan-jangan nanti aku lagi yang dituduh, aku yang membuat motornya bang Iham hilang. Dikira aku ada persekongkolan dengan orang lain untuk mengambil motor. Ditambah lagi aku hanya sendiri datang pagi ini, tidak dengan Fajri.

Tepatnya 18 Agustus. Dari luar kedua pintu, rumah bernomor 22 ini sudah terbuka. Mata Olan liar melihat halaman rumah Bapak Sajogyo. Masih banyak daun-daun yang belum disapu. Terlihat di depan kantor SAINS bang Acung memegang sapu lidi bertiang satu. Ngeng…ngeng duk..duk..duk dua gabungan suara antara ban motor dan besi pengalas got kecil. Dari tempat biasa kami duduk terlihat ada bang Iham, bang Adi, dan Mba Ika. Bang Acung entah kemana. Olan turun dari motor. Berjalan menuju kamar belakang menaru tasnya. Sebelum sampai di kamar. Mba Ika memberitahukan.

“Lan motor hilang…motornya Iham hilang.”

“Hah hilang!” Olan kaget mendengar apa yang dituturkan Mba Ika barusan. Ko bisa hilang. Olan seakan tidak percaya. Bukannya tadi malam di sini ramai? Kan ada bang Acung dan kawan-kawan tidur disini. Ko bisa hilang.” Olan berdebat dengan dirinya sendiri.

Olan ke kamar menaru tasnya. Di dapur tepatnya diatas kompor gas di dalam balangan sudah ada yang rebus talas, kacang bogor, singkong dan jagung.

“Mungkin ini menu nanti diskusi pagi ini. Kemarin siang sudah ada informasi bahwa besok pagi jam delapan nanti ada diskusi. Dan malamnya Bang Acung dan kawan-kawan rencananya akan menginap di sini. Biar ada persiapan dari pagi.” Kata Olan dalam hati.

Terdengar dari luar ada obrolan-obrolan bertabrakan di atas meja makan.

“Memang pintu dikunci atau tidak, pintu yang tengah itu! Kalau dibuka orang, pasti kita dengar. Soalnya agak susah untuk membukanya, yang tahu hanya orang dalam.” Kata Mba Ika sambil melihat ke arah pintu. Olan merasa tertuduh karena dia juga yang sering mengunci pintu itu selain Bang Saluang dan Mas Hasan. “Iya memang benar karena pintu itu semuanya besi dan ketika pintu dibuka atau dikunci pasti berbunyi”. Olan membenarkan perkataan maba Ika dalam hati.

“Hilangnya kapan?” Tanya Olan  penasaran. “Barusan tadi ini”. Berarti sudah pagi ya” ujar Olan.

Bang Iham hanya duduk dengan wajah sedih dan mungkin bercapur marah. Karena kehilangan  motor. Bang Iham berdiri menatap tajam kearah dimana motor diparkirnya tadi. Duduk berdiri duduk lagi, rokok dipegangangya tak sempat-sempat dibakarnya juga.

“Padahal aku sudah bangun jam lima tadi, namun kepalaku masih berat. Akhirnya tertidur lagi. Coba kalau tadi saya langsung kesini, mungkin bisa jadi, motor tidak hilang, atau bisa ketangkap malingnya.” Ujar Olan dalam hati.

Namun di sisi lain Olan juga berpikir. Maling jaman sekarang sangat berbahaya dan nekat. Mereka membawa senjata tajam. Ketika kepergok mereka bisa langsung membunuh siapa saja yang memergokinya.

Olan menuju dimana sapu lidi biasa ditarunya ketika selesai menyapu halaman. Sapu lidi sudah digenggamnya. Srek..srek..srek….Tiba-tiba datang bang Adi.

“Lan bisa pinjam motor”.

“Oh iya itu kunci” sambil menunjuk ke arah kunci itu. Kemudia Olan masuk menuju dapur lagi.

“Lan STNKnya ada?” tanya bang Adi lagi.

“Tidak tahu mungki di kantor” kata olan dari lorong menuju dapur.

Tak lama kemudian bang Iham dan abang yang tak tahu namanya ini pergi memakai motor SAINS. Olan kemudian keluar menyapu di mulainya dari halaman tengah.  Sambil menyapu Olan masih terpikir dengan motor yang hilang ini.

“Motor hilang kira-kira jam tujuh pagi. Sedangkan jam tujuh aku baru berangkat dari asrama. Pantasan pada saat aku datang, bunyi motor membuat mata mereka tertuju padaku.” Kata Olan dalam hati.

Rasa tertuduh dan menaruh curiga terhadap dirinya sendiri  semakin besar. Karena ketika ketahuan motornya bang Iham hilang Olan juga datang. “Jangan-jangan aku lagi yang dituduh, aku yang membuat motornya bang Iham hilang. Dikira aku ada persekongkolan dengan orang lain untuk mengambil motor. Ditambah lagi aku hanya sendiri datang pagi ini, tidak dengan Fajri. Ah… ini hanya perasaanku saja. Tidak mungkin mereka berpikir seperti apa yang aku pikirkan. Ini hanya perasaan  yang membuat aku mentersangkakan diriku sendiri.” Olan berusaha meredam perasaanya.

Setelah selesai menyapu. Olan kemudian masuk lagi ke dapur. Masuk kedalam kamar. Terdengar suara mba Ika dari luar

“Ini baru pertama kali loh, disini kehilangan motor.”

Olan melanjutkan menyapu halaman di belakang rumah dilanjutkan dengan memotong daun pisang yang sudah kering. Di dapur sudah ramai. Sudah ada mba Rini, mba Nila, Riki dan mba Ika. Mereka masih saja mengobrol tentang hilangnya motor bang Iham.

Setelah semuany bersih Olan kemudian mandi. Olan mengganti baju dan terpikir dalam hatinya:

“Padahal tadi pas aku datang, terlihat bang Acung memegang sapu. Namun tidak terlihat bang Acung menyapu halaman, mungkin karena aku sudah datang. Jadi dia tidak jadi menyapu halaman. Ah… sudahlah.” Olan kemudian  bergabung duduk di meja. Sudah ada mba Ika dan salah satu abang yang sampai sekarang Olan sendiri tidak tahu namanya. Obrolan masih seputar hilangnya motor.

“Mba masih kepikir loh, sampai mba mau mandi tadi, baru pertama kali ini disini motor hilang. Kasihan Iham. Motor itu kan punya pacarnya!” Kata mba Ika. Motor ini masih baru atau sudah lama?” Tanya mba Ika. “Sudah lama tahun 2008” jawab abang yang duduk di sampingku. “Tadi pas aku nanya ke Iham dia menjawab dengan nada marah. Dan hari ini dia berulan tahun.” Ujarnya. Olan juga baru tahu kalau hari ini bang Iham ulan tahun dan motor yang hilang ini, adalah motor pacarnya.

“Abangku sampai menangis waktu motornya hilang, sama motor pacarnya juga. Akhirnyanya abangku menikah dengan pacarnya” Mba Ika dan abang yang duduk disampingnya, tertawa ketika mendengar Olan bercerita.

Malam itu juga kami memanggil polisi ke tempat kejadian di asrama kami waktu masih di Dramaga. Kata Pak Polisi curanmor ini punya kunci serba guna. Dan mereka menaruh target ketika mau mencuri motor. Ada satu orang masuk mengambil motor ada yang menunggu di luar. Harus selesai dalam dua atau tiga menit. Kalau tidak selesai dalam waktu yang ditentukan mereka langsung cabut. Mereka juga membawa senjata tajam dan bisa juga mereka membawa senjata api. Ketika kepergok, mereka bisa nekat menyerang bahkan bisa membunuh siapa saja yang memergoki mereka. Dan cara kerja mereka cepat dan sudah terlatih.” Olan melanjutkan cerita mengenai pengalamannya tentang pencurian motor ini.

Mba Ika juga menceritakan pengalamannya. “Iya ada teman mba juga. Suaminya itu Polisi, ketika suaminya memergoki maling. Suaminya pura-pura tidur dia takut juga, karena maling ini bisa berbuat nekat.”

Kemudian datang mba Taza bergabung dengan kami. “Pacarnya Iham sudah tahu? Tanya mba Taza. Belum jawab abang tanpa nama ini. Terus Ihamnya mana?” Tanyanya lagi. Sambil melihat ke ruang dimana diskusi berlangsung “itu di dalam lagi ikut diskusi” kata mba Ika. “Sudah jangan bahas di depan Iham, kasihan.” Ujar mba Taza. Kemudian mba Taza masuk ikut diskusi.

Datang bang Saluang mencicipi sepotong gorengan singkong.

“Ini ngga ada sambalnya? padahal enak loh singkong makan pake sambal. Coba tanya ke Olan bahannya apa saja.” Kata bang Saluang kepada Mba Rini sambil melihat ke arah Olan.

“Yang bisa buat sambal ini cuman Olan dan Fajri.” Sambung mba Ika. “Bahannya apa saja?” tanya mba Rini.  “Jeruk, tomat, cabe dan bawang merah” kata mba Ika. “Iya bawang merah, tomat jeruk dan cabe” sambung Olan.  “Pake cabe rawit?” tanya mba Rini. “Iya cabe, bisa juga bukan cabe rawit kalau mau sambalnya pedas pake cabe rawit aja,” ujar Olan. “Tapi ngga ada bawang merah” kata mba Rini. “Ya sudah Ki beli dulu. Mba Rini menyuruh Riki membeli bawang merah, sambil memisahkan tomat dan cabe yang akan dibuat sambal nanti.

Olan kemudian keluar bergabung mengikuti diskusi. Namun hanya duduk di luar, dan mendengarkan lewat jendela. Olan menuliskan kejadian tentang kehilangan motor ini dibukunya sambil mendengar diskusi tentang kemisninan, yang berlangsung dalam ruangan. Datanglah maba Taza. Membuka sebatang rokok sampoerna dan dibakarnya.  Olan dan maba Taza tidak ada obrolan. Olan masih asik menulis dan mba Taza juga terlihat fokus mendengarkan diskusi, sambil menulis beberapa poin penting dibukunya.

“Lan bagaimana di daerahmu mendefenisikan kemiskinan?” tanya mba Taza kepada Olan.

“Kalau dikampungku orang mendefenisikan kemiskinan itu. Dilihat  dari orang itu sudah tidak berpunya, sudah tidak punya keluarga dan sudah menumpang hidup ke orang. Dan juga mungkin dilihat dari bangunan rumahnya. Yang dinding masih terbuat dari gabah atau batang sagu dan bisa dibilang mereka kurang mampu. Namun, walaupun dinding masih dari gabah, mereka masih bisa makan. Apa ya ,bahasanya mungkin bukan miskin.” Olan menjelaskan kepadamba Taza. Datang juga bang Iham ikut bergabung, mengeluar sebatang rokok.

Tidak lama kemudian datang mba Rini.

“Bang Olan itu sambal ngga jadi dibuat? Tanyanya. “Memangnya belum dibuat?” Olan bertanya balik. “belum, kan aku tidak bisa membuatnya.” Jawab mba Rini sambil berjalan menuju kantor.  Olan mengajak Riki untuk menemaninya membuat sambal. “Bentar dulu merokok sebatang” kata Riki. “ Iya nanti di sana saja merokoknya, kamu hanya menemani saja nanti aku yang buat sambalnya” Olan mempertegas.Tak lama kemudia Olan dan Riki berjalan menuju meja dimana tomat dan cabe dibersihkan tadi. Dimeja masih ada Mba Ika. Olan kemudian mengambil bahan-bahan untuk sambal dan masuk ke dapur. Campuran Tomat,cabe dan bawang merah disatukan. Akhir selesai juga. Sambal dihidangkan di atas meja. Sambal dimakan pake singkong goring dan sekaligus buat makan siang.

Selesai makan siang. Segelas kopi….lagi.

Kalau di kampungku. Motor hilang biasanya diramal oleh tukang ramal atau dukun. Biasanya sampai hari ketiga. Bisa ketemu dan bisa tidak. Kalau sudah lewat dari tiga hari. Berarti sudah hilang. Ini dulu. Dan sekarang ruangnya berbeda. Ini di Kota. Apapun yang hilang dalam hitungan menit sudah tidak ketemu lagi. Dan sampai sekarang motornya Bang Iham tidak ketemu lagi.