Selamat Hari Lahir

Sayang sebentar lagi bertambah umur. Sayang semoga dengan bertambahnya umur, sayang makin kuat, semangat dan tak gampang menyerah.

Sayang… Aku bangga padamu. Hai…. Dokter Zia, selamat hari ulan tahun yaaaa. Halo bu Dokter termuda di Maluku Utara selamat hari lahir ya. Semoga panjang umur dan banyak rezeki, Amin.

Semoga dengan bertambahnya umur ini, kita sama-sama makin dewasa menghadapi dunia ini. Hai Dokter Zia yang cantik, makin cantik kalau murah senyum.

Hai manis, jangan bosan-bosan memarahi aku ketika aku salah. Aku yakin kita sama-sama tahu kalau kita saling mencintai. Tidak ada alasan manusia apapun untuk merubah kasih dan sayang kita, kecuali yang Maha Kuasa.

Dokter Zia ku, pacarmu ini hanya bisa memberimu hadiah ulan tahun mu dengan tulisan ini. Semoga dengan tulisan ini mampu mengalahkan berjuta-juta hadiah mahal lainnya. Semoga begitu ketika sayang membaca tulisan ini.

Ternate, 5 Juni 2018.

Iklan

Tentang Kita

Gunung Pangrango Bogor adalah awal mula kita saling melihat. Diatas puncak 2832 MDPL inilah kita saling suka. Saling berpegang tangan. Tertawa bersama, makan bersama, minum bersama, kemudian berjalan bersama. Momen yang paling penting adalah ketika aku mengungkapkan cinta padamu sayang. Tepat pada malam pembukaan piala Dunia 2014. Asrama Bogor IPM-HT menjadi saksi. Sayang masih ingatkah ketika kita hanya bisa makan nasi dan garam. Wah, perjuangan kita sangat berharga. Kau adalah wanita hebat yang pernah aku kenal di Bumi ini.

Sayang engkau seringkali bertanya kenapa aku suka padamu? Yaaa karena hatiku yang menyuruh aku memilih pada mau. Sayang jangan pernah bosan untuk menyemangatiku, menasehatiku, dan mengingatkan untuk sesuatu yang baik.

Sayang sekarang kau sudah menjadi seorang dokter. Ya.. Drh, Fauzia Istana Kaimudin. Aku suka memanggil namamu Dokter Zia. Sayang semoga Allah Swt selalu memberi kita umur yang panjang, banyak rezeki dan merebut sampai ke pelaminan nanti.

Aku bangga bisa mempunyai calon istri seorang dokter. Ini adalah cita-citaku sayang. Mungkin aku adalah salah satu pria dari sekian banyak di Halmahera Timur yang mempunyai pacar seorang dokter. Hehehe… hai Ibu Dok, halo dokter Zia.

Sayang aku memohon padamu untuk sedikit bersabar, kamu juga tahu aku belum punya pekerjaan yang tetap. Sekali lagi sayang sedikit bersabar. Aku akan mengusahakan dan bekerja keras untuk hidup kita berdua.

Sayang aku menulis ini di momen yang sama, ketika dunia lagi disibukkan dengan piala Dunia 2018. Kiranya sama seperti aku sibuk menyiapkan kata-kata untuk mengungkapkan cintaku padamu.

Sekali lagi terima kasih sayang. Kau adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal di Bumi ini.

Ternate, 5 Juni 2018.

Lalayon-Wayase

Tarian lalayon adalah adat dan budaya dalam tradisi gamrange. Ketika tangan memukul tifa serta gesekan biola (fiol) digesek ditambah lagu lalayon dikumandangkan. Apabila yang mendengar musik satu ini ia pasti akan bersuara rindu (oh…..)dalam pelepasan cinta, menuju janur kuning. Ketika turunnya senja dan menghilang dibalik gunung. Saat itu juga jiwa peronggeng wayase bermunculan.
Wayase adalah sisi lain dari gerakan kaki yang tak sengaja bisa memancing emosional. Emosi dalam hal pendekatan sesama manusia dalam sibuah perkawinan yang dipandu oleh seorang opereter lagu di balik beranda rumah. Saya sendiri tidak tahu apa maksud dari pukulan tifa dan gerakan senar (fiol) serta lagu Wayase setelah pukulan tifa perlahan hilang. Kelihatannya semua orang senang untuk berlenggang dan menghamburkan lenso dan gaya agak lambat tapi pasti. Ditambah seorang pemandu pesta yang selalu berkata ron…ron dan wayase berhadapan.

Mabapura, 3 September 2016.

Kampungku Kebanjiran

Ruang hidup manusia adalah berpegang pada ketiga unsur yaitu air, tanah dan energi (dapur mahluk sabola-bumi). Namun ketika salah satu unsur mulai rusak atau punah maka manusia akan merasa sengsara. Dikarenakan tangan-manusia yang tak perduli dengan keadaan alam, maka alam pun berbicara. Seperti yang terjadi di Desa Mabapura, Kec. Maba, Kabupaten Halmahera-Timur, Propinsi Maluku Utara, pada 30 september 2016. Terjadi banjir yang masuk sampai ke dalam kampung. Dugaan sementara yang beredar dikarenakan masyarakat setempat sudah berlebihan mengeruk batu yang ada di sungai (kali) Nov.

Menurut Si A bahwa terjadi banjir diakibatkan masyarakat sering mengambil batu di kali Nov. Ia juga mendapat informasi dari media online (facebook). Ketika foto banjir diunggah oleh S, banyak yang mengomentari. Salah satunya adalah menyalahkan adanya perusahaan PT.Antam, Tbk dan Feronikel. Dipertegas agar segera menghentikan kedua perusahaan yang sedang beroperasi. Dalam komentar yang lain, bahwa diakibatkan oleh masyarakat setempat sendiri.

Sembari membaca komentar di facebook si A pun menanggapi : kenapa harus menyalahkan pihak perusahaan. Sedangkan saat ini tak ada perusahaan yang beroperasi di daerah kali Nov. Namun ketika perusahaan berhenti, mereka (masyarakat) ngotot agar secepatnya perusahaan beroperasi kembali. 

“Di lao di kantor BPD desa Soalaipoh ancor, banjir nae taradapalia aspal. Sa lia dong posting di facebook.Tutur si K. Ia juga mendapat informasi ini dari seorang satpam di Moronopo ketika satpam ini pergi mengantar si R yang ia juga seorang satpam ke kali Nov. Katanya jembatan air Nov putus. Di lao dong biking jembatan ni, dong panen doi tara sadiki. N deng yang lain (banyak orang) yang dong biking jembatan satu oto 50 ribu sedangkan motor 25 ribu rupiah.”
Menurut AM uang jembatan sekitar 700 ribu namun hilang. Si N yang memotong batang kelapa sekaligus pemilik mesin sengsorpun hanya diberi uang 50 ribu rupiah saja. Ia mengembalikan uang itu. Tak ada kejelasan kenapa uang hilang dan kemana uang itu, serta digunakan untuk apa.
Kesimpulan sementara:
Banjir masuk sampai kedalam kampung diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Batu kali yang seharusnya sebagai penahan volume jalannya air, kini dikeruk secara berlebihan. Namun lagi-lagi pengerukan batu bukan tanpa alasan atau disengaja. Dikarenakan perusahaan fakum ketika UUD Minerba pada tahun 2013 tiga tahun lalu. Akhirnya banyak pengangguran sehingga masyarakat memilih untuk mengeruk batu yang ada di kali Nov. Melihat peluang banyaknya proyek yang sedang beroperasi seperti pengaspalan jalan, membuat kanal, got serta pembuatan jembatan di Moronopo pada saat ini. Ditambah dengan terjadi sebagian masyarakat mengais rezeki dengan cara membuat jembatan darurat. Namun sayang hasilnya tak seperti yang diinginkan. Ada yang senang dan ada yang sedih.
Melirik jauh kebelakang sebelum masuknya perusahaan tak pernah Mabapura terjadi banjir apalagi jembatan putus. Namun ketika pemekaran kabupaten pada tahun 2003, tigabelas tahun yang lalu. Para investorpun mulai berdatangan dan menancapkan kakinya di Bumi Halmahera-Timur yang pada khususnya Wilayah Kecamatan Maba ( Buli, Mabapura, Maba dan Tewil). Makin kesini tak sedikit para investor lain yang turut berlomba-lomba untuk mengupas pulau-pulau dan gunung-gunung di Pulau Halmahera-Timur. Bagaimana tak terjadi banjir kalau manusia berlomba-lomba untuk mengeruk gunung-gunung, pulau-pulau, serta membongkar dan merubah jalur air yang sudah berjalan secara alamiah. Sehingga volume air makin meningkat dan menjebol tanggul-tanggul penahan air (jembatan). Padahal sumber pertahanan hidup (dapur) bagi masyarakat setempat. Jelas sekali bahwa terjadi bencana banjir saat ini adalah teguran buat manusia agar berpikir jauh bukan berpikir untuk perut saat ini saja. Mengutip Dinar atau yang sering disapa Mba Dinar ( seorang pelajar di SDE (Shool Demokratic Economica/ Sekolah Demokratik Ekonomika di Jakarta. Bahwa yang dimaksud dengan kekayaan alam manusia yaitu mengambil untuk sebagai penyambung hidup secara gratis tanpa ada uang atau nominalnya. Ini adalah pemberian dari yang Maha Kuasa.
Dapur bagi semua mahluk sabola bumi adalah Air-pangan-energi. Ketiga barang ini tidak bisa ditukar dengan apapun! Siapapun! Tidak bisa diciptakan kembali oleh manusia ketika hancur dengan alat secanggih apapun! Sewatak modern apapun! Kecuali yang Maha pencipta alam semesta.
Maka dari itu rawatlah dan gunakan sesuai kebutuhan. Rawatlah “tanah-air-energi” seperti engkau merawat tubuhmu sendiri. Sebab! Ketika ketiga barang diatas dikuras-dikupas secara berlebihan. Maka disitulah kedudukan derajat manusia menuju pada watak hewani. Jati diri manusianya hilang akhirnya muncul jati diri kebinatangan.

       Moronopo, 30 September 2016.

Jalan Setapak

Aku lebih suka melewati jalan setapak. Karena di dalam lorong setapak aku bisa melihat pintu belakang lebih jelas. Mata ku bisa melihat sumur, asap mengepul, serta wajah seorang ibu yang sedang meracik bumbu penyambung hidup. Telingaku bisa mendengar suara tarikan timba dari dalam sumur, bunyi pintu yang sesering ditarik, dan suara tangisan anak-anak karena lapar. Hidungku selalu mencium aroma asap bercampur bau keringat si ibu, ditambah bau lain didalam dapur. Aku lebih suka melewati jalan setapak, karena aku bisa melihat kenyataan dibalik pintu depan. Aku lebih suka melewati jalan setapak dibanding aku melewati jalan raya, karena di jalan raya terlalu bising dan carut-marut dan serba di palsukan._Jalan Setapak. Mabapura, 3 September 2016.

Ruang yang Tersepihkan

Perampasan hak manusia dari sumber penghidupannya, membuat ruang-hidup menjadi kering dan datar. Lalu membangun ruang baru, yaitu ruang sosial penyendirian yang serba nyata pada kehidupan itu sendiri. Bahwa sekarang warna alamiah manusia pribumi sengaja dibuat luntur dari dalam. Sehingga melupakan jaringan manusia yang dulunya terbangun untuk membentuk satu ruang hidup bersama. Kini! Dengan masifnya berbagai tuturan, istilah, barang, hasrat yang dinamakan kemajuan jaman tersebut. Malah membuat manusia masing-masing mencari jalan untuk berdiri sendiri-sendiri. Maka bahasa yang enak didengar dan cepat direspon oleh sesama adalah bahasa saling hujat-menghujat, melirik sembari menatap tajam lebih sakitnya lagi kalau diomongkan dibelakang. Kesemuanya itu untuk memperlihatkan siapa yang paling berkuasa didalam wacana tersebut.

Padahal secara tidak sadar, sedang berlangsungnya proses penghancuran untuk membangun peradaban baru di “bumi manusia” ini. Semua dimasukkan kedalam kerangka pikir penghancuran sedari: sejarah-air-pangan dan energi demi memperkuat dan memperbesar sirkuit kapital tersebut. Sekarang yang paling gencar dikeruk oleh logika kapital adalah energi. Pengerukan kandungan batu bara, nikel, batu kuarsa dan lain-lain. Dengan tujuan membuat senjata yang dalam satu kali letupan bisa menghilangkan semua lapisan sosial-ekologi lama menjadi sosial-ekologi baru yang serba dirobotkan. Karena kita tahu bersama bahwa bahan-bahan kandungan dari sumber energi tidak mampuh diciptakan oleh manusia. Maka sumber-sumber energi ini sengaja dikeruk habis oleh para pembuat dunia yang serba baru ini, menjadi pegangan cadangan ketika ada perang peradaban.

Parahnya, air-pangan dan energi dipahami sebagai hasil kandungan alam yang wajib dikeruk untuk kemaslahatan manusia. Maka pertanyaannya: “kemaslahatan manusia yang mana yang menikmati hasil kandungan alam tersbut?” Pola pikir yang dangkal seperti ini, membuat manusia lupa bahwa: kekayaan alam yang sebenarnya dari Tuhan yaitu: apa yang diingini manusia dari alam bisa diambil dengan gratis tanpa ada perantara nilai didalamnya. Nilai yang dimaksud adalah tidak ada transaksi dalam bentuk material. Sederhananya uang bukan sebagai perantara untuk mengambil hasil pemberian Tuhan tersebut.

Maka, mantra-mantra pembangunan dan kemajuan manusia hanya sebagai pemantik, untuk menuju pada pembangunan dan kemajuan dari perayaan penghancuran manusia dan alamnya. Dengan sendirinya ruang menjadi sepih dan disisihkan dalam satu kerangka ruang penghilangan manusia dari sumber penghidupan itu sendiri. Tidak lagi baku-urus soal apakah di dapur masih ada tungku, air, tomat, cabe, bawang, singkong, pisang, kelapa dan ikan. Bahkan yang terjadi adalah gengsi untuk menuturkan akan sumber-sumber penghidupan subsisten bersama tersebut. Dengan bangganya mengeluarkan sepotong kertas uang dan memberi kepada pedagang baru yang masuk di kampung. Dengan begitu putaran ekonomi tidak lagi berputar di dalam kampung, malah memberi kepada orang lain dan dibawah pergi.

Bertubi-tubi dan berlomba-lomba serta bertahun-tahun pengetahuan formal diagungkan untuk mencari sepotong kertas uang untuk melayani hasrat orang lain: bukan hasrat orang kampung itu sendiri. Pengetahuan akademik dijadikan sebagai ujung tombak untuk mengatur ruang hidup bersama yang salah paham akan sosial-ekologi manusia: yang sejatinya adalah komunal bukan privat. Maka maarilah sama-sama kita kembali menuturkan kembali mengenai apa yang sudah dirampas oleh kita sendiri dan orang luar mengenai pengurusan ekonomika-kerumahtangaan bersama ini.

Malabar: 22, (Sajogyo Institute). Bogor, 20 Juni 2016.

Bumi Halmahera-Timur

IMG_4444

Oh….Bumi Halmahera Timur

Rasanya, baru kemarin engkau bertambah usia.

Rasanya, baru kemarin kami bersenggama dengan kebahagiaan itu.

Rasanya baru kemarin, benih-benihku tumbuh dari sari-sari harumnya, sagu yang dimasak oleh ibu dikala itu.

Rasanya, baru kemarin kami saling sapa-menyapa menebar senyum yang tak dibuat-buat.

Rasanya, baru kemarin kami duduk bersama untuk memanen kopra.

Rasanya, baru kemarin kami duduk bersama untuk mengepul asap didapur.

Rasanya, baru kemarin kami ingin tahu kapan ikan berkunjung di lautan kami.

Oh….Bumi Halmahera Timur

Atas nama pembangunan.

Kini kebahagiaan berpuluh-puluh tahun lamanya, digantikan dengan kesakitan yang panjang.

Iya. Rasanya baru kemarin.

Tepatnya 31 Mei hari lahirnya Halmahera-Timur tercinta.

Dengan penuh-harap yang besar.

Tentu para leluhur menginginkan lahirnya engkau, menuju pada peradaban baru yang lebih baik.

Peradaban dimana manusianya, mampuh dan tetap kokoh mempertahankan budaya yang telah lama mendarah daging.

Oh…..Bumi Halmahera Timur

Namun, harapan itu sirna  dengan lahirnya manusia-manusia baru.

Manusia yang memiliki kodrat melebihi isi perutnya.

Dengan begitu.

Amarah manusia mampuh merobek pegangan sejarah  yang telah lama dibangun oleh leluhur kami.

Kini, manusia berbondong-bondong menuju pada kekuasaan.

Mereka belarian dengan kencang, untuk menyembah kursi penuh uang.

 Oh…Bumi Halmahera Timur

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa yang paling ampuh dan jitu yaitu demokrasi.

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa kesejahteraan rakyat yang hampa.

Engkau dibangun, dengan polesan bahasa money politic dan banyak janji.

Maka, untuk menuju pada  bahasa kekuasaan, harus perbanyak janji.

Oh….Bumi Halmahera-Timur betapa malang nasibmu.

Kemenangan palsu, demi menduduki kekuasaan yang rapuh.

Kemenangan palsu, demi menggenjot air mata sesama manusia.

Kemenangan palsu, demi memotong darah silaturrahhim sesama manusia.

Kemenang palsu, demi kekuasaan dan kalah bagi yang selalu benar dan berkata jujur.

Astaga….Engkau dibangun dengan pengetahuan yang dangkal!

Oh…Bumi Halmahera Timur

Atas nama ekonomi kerakyatan.

Sagu digantikan dengan beras yang bukan makanan kami.

Atas nama kesejahteraan rakyat.

Ikan bebas bermain di laut, kini digantikan dengan ikan yang dikurung didalam kaleng.

Atas nama kearifal lokal.

Budaya tarian lalayon, cokaiba dan cakalele dipentaskan dengan makna yang pendek.

Atas nama Kearifan lokal.

Budaya bertutur dan irama hidup kampung, secara telanjang menjelma menjadi budaya penjajahan.

Oh…..Bumi Halmahera Timur

Dengarlah!

Apakah ini yang dinamakan demokrasi?

Apakah ini yang dinamakan pembangunan?

Apakah…. ini yang dinamakan kemajuan ekonomi kerakyatan itu!

Oh…sungguh malang nasibmu.

Amanahmu dikhianati oleh anak buyutmu sendiri.

 Oh….Bumi Halmahera Timur

Sayang sekali politik itu buta.

Tidak bisa melihat betapa kosong kering kerontang perut si miskin.

Sayang sekali politik itu mati rasa.

Tidak bisa merasakan, betapa perihnya pulau-pulau dan tanah dikupasi, dikuliti, dikeruk, secara habis-habisan.

Akhirnya si rampok pun ikut berceloteh.

Jangan hanya tanah tetapi rampoklah  jasad mereka.

Jangan hanya air tetapi rampoklah hati mereka.

Jangan cuman sejarah dan budaya tetapi masuk lebih dalam lagi dan rampoklah qalbu mereka.

Haha…haha sungguh peradaban yang serba palsu dan lucu!

.Oh…Bumi Halmahera Timur

Dengarlah!

Sayang sekali politik itu bisu.

Tidak bisa mengatakan mana bau mana harum, mana kotor mana bersih dan mana yang benar dan mana yang salah!

Sayang sekali politik itu tuli.

Tidak bisa mendengar suara rakyat,

Tidak bisa mendengar teriakan cacing-caing meminta makanan dari perut si kaya.

Sayang sekali politik itu angkuh.

Ia tak mengenal leluhur kami.

Ia tak bisa mendengar nasehat leluhur kami.

Bahwa masa depan adalah bencana!

Bencana bagi yang melupakan sejarah.

Hey…..Camkan!

Bahwa politik hanya mengenal mana lawan mana kawan, mana kalah mana menang.

Astaga…masa depan yang mati!

Masa depan yang retak.

Masa depan yang terbelah.

Masa depan melayani hasrat yang tak ada ujungnya.

Iya. Penciptaan masa depan sejarah bunuh diri, diatas tanah leluhur sendiri!

Dasar peradaban yang dangkal!

Bogor, 3 Juni 2016, Karya Orang Biasa.

Belajar Obat Herbal Tradisional: Taman Sringanis Bogor

“Semua tanaman ada fungsi dan kegunaannya masing-masing. Cuman kitanya yang belum tahu saja.” (Tuturan: Bang Dudi,[1]  di Taman Sringanis)

Dengan niat yang sama ingin belajar tentang obat tradisional serta melihat bagaimana lahan sempit digunakan sedemikian rupa agar menjadi satu hal yang bermanfaat. Kami[2] berangkat dari Malabar (Sajogyo Institute) ke Taman Sringanis yang berada di daerah Batu Tulis Bogor, pada 21 Maret 2016, pukul 11.05 waktu Bogor. Nama Taman Sringanis ini sebelumnya saya sendiri sudah mendengar dari bang Surya Saluang cukup lama. Dan dari tuturannyalah juga membuat saya tertarik untuk pergi melihat dan belajar. Walaupun bisa dibilang baru perkenalan awal saja dan hanya dalam  hitungan jam sudah sedikit banyaknya menggambarkan tentang betapa pentingnya tanaman obat tradisional ini.

Ketika sampai di Taman Sringanis. Rasanya saya diarahkah untuk menengok kembali ke kampung yang sudah lama saya tinggali. Disambut oleh tanaman-tanaman di areal lahan sekitar seribu meter persegi. Tanaman-tanaman yang ditanami di dalam pot disertai dengan keterangan nama dan fungsinya. Membuat saya terkaget-kaget dan baru tahu juga. Pada umumnya,beberapa tanaman yang tumbuh liar di jalananan dan beberapa bunga, hanya dijadikan sebagai hiasan saja.Namun di Taman Sringanis semuanya ada fungsi dan kegunaannya. Dan saya sendiri juga baru tahu akan hal ini.

Tanaman obat-obat tradisional adalah yang dapat dipergunakan sebagai obat, baik yang sengaja ditanam maupun tumbuh secara liar. Tanaman tersebut dimanfaatka oleh masyarakat untuk diramu dan disajikan oleh obat guna penyembuhan penyakit. Pada umumnya yang dimaksud dengan obat tradisional adalah ramuan dari tumbutumbuhan yang berkhasiat obat. Tumbuhan obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu, hal ini seperti yang dikemukakan Kartasapoetra (1992 :3) menyatakan bahwa: tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Maksudnya yaitu tanaman tinggal dipetik dan diracik, kemudian langsung dikonsumsi. Sedangkan Siswanto (1997:3) menyebutkan tumbuhan obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu, tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat. Maksudnya yaitu tanaman obat tradisional digunakan sebagai bahan untuk membuat obat (bahan dasar yang untuk membuat obat).[3]

Taman herbal di Desa Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, itu dibangun pasangan Putu Oka Sukanta dan Endah dan Endah Lasmadiwati pada 1992, diatas lahan seluas 1.000 meter persegi. Saat ini terdapat tak kurang dari 450 jenis tanaman obat, baik tanaman asli Indonesia maupun luar negeri. Karena itu Taman Sringanis kerap juga disebut pusat konservasi tanaman obat. Nama Taman Sringanis sebenarnya diambil dari nama orang tua dan mertua sang pemilik: Ni Ketut Taman dan Ni Ketut Sringanis.[4]

Rasa-rasanya selama hampir lima tahun saya berada di Bogor terasa akan sia-sia. Saya tidak mengenal lagi mana tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat. Padahal di kampung pada saat itu masih kental orang menggunakan obat kampung tersebut. Dari taman ini juga melempar jauh ingatan saya waktu di kampung. Ada beberapa obat dari dedaunan yang bisa mengobati sakit gigi. Hanya ditempelkan kan saja ke pipi dan bisa sembuh. Saya sendiri juga mempunyai pengalaman pada penyakit sagit gigi ini. Sewaktu saya masih SD, ketika sakit gigi, bapak hanya menempelkan bakau kedalam gigi. Rasanya sakit sekali. Dan tak lama kemudian sembuh sampai sekarang saya tidak lagi sakit gigi. Ada juga beberapa daun yang ditumbuk dan dioleskan ke kaki yang bengkak atau bisul. Dalam hitungan hari bisa sembuh. Tanpa harus mengeluarkan biaya untuk pergi ke rumah sakit.

Sekarang. Obat herbal kebanyakan sudah disalahgunakan. Yang pada awalnya fungsi dan kebutuhannya untuk mengobati orang. Kebanyakan yang terjadi malah dirubah dan dimasukkan kedalam kerangka untuk mencari keuntungan lebih. Dari kerangka asal untung inilah kemudian obat tradisional dialih fungsikan untuk menjadi obat modern yang dibantu dengan berbagai alat tehnologi. Karena didalam kerangka untung ini sifatnya menampung kekayaan. Yang pada akhirnya memangkas habis obat-obat tradisional ini.

Walaupun sekarang persaingan dalam dunia obat-obatan begitu tinggi. Namun industri obat-obatan ini tidak berlaku bagi Taman Sringanis. Sebuah pelajaran bagi saya sendiri, berkaca dari Taman Sringanis yang sudah sekian tahun. Sampai sekarang masih tetap pada prinsipnya. Bahwa tanaman obat herbal tradisional yang harus menjadi kebanggaan bagi kami orang Indonesia.

Taman Sringanis didirikan untuk membangun sebagai wadah merealisasikan visi dan misi tentang kesehatan mandiri yang berakar pada tradisi dan budaya bangsa. Taman Sringanis berdiri berkaca pada kondisi kesehatan yang semakin terpuruk dalam sakit tanpa mengerti cara mengatasinya, ketergantungan masyarakat terhadap indutri obat-obatan, pelayanan kesehatan yang kurang menyentuh tindakan pencegahan, serta semakin terkikisnya kearifan lokal budaya berkesehatan warisan leluhur masih berdaya guna. Inilah yang menjadi visi Endah dan Putu. Keduanya percaya bahwa manusia dan alam sekitarnya mempunya potensi untuk membangun kualitas kesehatn fisik, mental dan spritual. Bahkan untuk membudayakan herbal, sang pejuang herbal ini sudah menulis beberapa buku ilmiah populer kesehatan tradisional serta kerap menyelenggarakan pelatiha untuk kelompok masyarakat.[5]

Menurut Bang Dudi dengan latar belakang Ibu Endah yang mengidap penyakit dan sudah berobat kemana-mana namun tak bisa menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian beralih ke tanaman herbal tradisional, dan terbukti menyembuhkan penyakitnya. Pada tahun 1992[6] ia mulai mengembangkan dan memadukan dari berbagai tanamanan secara alami. Taman Sringanis ini mulai dikenal dan dikunjugi oleh orang pada tahun 1998. Ada beberapa profil yang terpampang di dinding depan dan di belakang. Tercatat kunjungan mulai dari tahun 1998 sampai tahun 2006.  Sekitar 400 jenis tanaman di taman ini. Dan ketika orang mengunjungi ke taman kata mereka unik, begitu juga dengan saya sendiri. Melihat prospek ini Taman Sringanis sejak tahun 1998 menjadikan kebun obatnya menjadi agrowisata yang menawarkan objek wisata yang unik dan menarik berupa wisata kebun tanaman obat. Rekrasi yang ditawarkan adalah rekreasi yang bersifat pengetahuan dengan mengenali dan mempelajari jenis-jenis tanaman obat disajikan dalam bentuk seminar kebun dan senam kebugaran yang terdapat dalam peket agrowisatanya.[7]

Banyaknya tanaman di halaman rumah bisa menghilangkan rasa jenuh dan stres. Ketika masuk kedalam areal penghijauan, energi dari tanaman yang masuk kedalam tubuh. Rasa-rasanya indah nan sejuk. Seperti tidak ada masalah. Bahwa ada energi lain antara manusia dan tumbuhan. Saling keterhubungan satu sama lain. Seperti yang dituturkan oleh bang Dudi:

“Semua tanaman mempunyai beberapa energi. Salah satunya tanaman andong merah ini. Tanaman ini biasanya juga disebut dengan tanaman anti maling. Dan tanaman ini juga biasanya ditanami di depan rumah. Misalnya ketika kita bepergian dan meninggalkan rumah agak lama. Tiba-tiba ada maling, pasti dari tanaman ini mengeluarkan energi penolakan terhadap si maling tersebut. Dan si maling sendiri akan merasa tidak nyaman untuk masuk kedalam rumah. Di sisi lain apa bila si maling sampai masuk kedalam rumah dan mencuri berarti energi si maling lebih besar dari tanaman andong merah tersebut.”

Ia juga menuturkan ada tanaman anti petir. Saya sendiri juga belum sempat lihat bentuk dan rupa tanaman ini. Katanya mereka juga sering dikunjungi oleh orang PLN, untuk mencari tanaman ini. Biasanya tinggal diambil batangnya lalu ditaruh atau digantung di areal PLN. Dan terbukti dari orang PLN sendiri yang bilang kalau tanaman ini benar-benar berfungsi. Apabila turun hujan PLN tetap aman-aman saja, tidak tersambar petir.

Petugas Taman Sringanis ini juga bercerita bahwa ada tanaman yang namanya Sambiloto.[8] Alkisah di Candi Prambanan salah seorang raja sedang sakit. Dan Hanoman lah yang disuruh untuk mencari obat tersebut. Obat ini tumbuh liar di daerah pegunungan. Hanoman sendiri tidak mengetahui bentuk dan rupa obat tersebut. Ia kemudian memangkas gunung dan membawanya ke candi Prambanan. Ia juga mengatakan pernah ada ahli obat dari negara Cina. Ia awalnya membaca di internet bahwa ada tanaman yang namaya temu kunci. Dari keterangan di internet tersebut bahwa tanaman ini berada di Taman Sriganis Bogor. Ia kemudian bela-bela datang dari Cina hanya untuk melihat bagaimana temu kunci ini. Bukan tanpa alasan, konon katanya yang diceritakan dalam film Sangkuriang. Ibu Sangkuriang selalu mengosumsi temu kunci sehingga aura kecantikannya, membuat anaknya sendiri tidak sadar kalau perempuan yang ia sukai adalah ibunya sendiri. Dari cerita inilah si ahli pengobatan Cina ini bela-bela datang dari jauh. Katanya obat ini untuk obat herbal kecantikan perempuan Cina.

Yang uniknya ada satu tanaman yang mengundang rasa penasaranku. Namanya “pacar jawa”. Kalau dikampung saya namanya laka. Tanaman ini biasa dikampung diambil daunnya lalu ditumbuk. Dan diarsir ke kuku kaki dan kuku tangan tak lama kemudian kuku akan berwarna merah. Funsinya setahu saya cuman untuk pewarna kuku saja sewaktu di kampung. Namun ketika saya beranjak dari kursi dan mendekati tanaman ini. Tertutulis keterangan bahwa tanaman ini mempunyai sifat dan fungsinya. Tanaman dengan bahasa latinnya Lawzonia alba lamk, lawzonia inemist. Mampuh mengobati anti radang, peluruh haid dan melancarkan peredaran darah.

Tumbuh-tumbuhan begitu banyak dan kaya tumbuh liar diatas tanah Nusantara ini. Melirik kebelakang lebih jauh Maluku menjadi salah satu pusat perdagangan dunia.Begitu kayanya alam hayati sampai membuat seorang Alfred Wallace yang sangat cinta dengan alam. Pada tahun 1870-an ia datang ke Kepulauan Maluku. Hanya dalam hitungan hari ia sudah dapat sekitar 30 jenis kupu-kupu dan hampir 9.000 jenis tumbuhan. Ia mengutip dalam kitab Torah “bahwa inilah tanah yang dijanjikan.”

Tumbuhan Cengkih menjadi salah satu incaran para pedagang eropa. Tumbuhan ini kebanykan tumbuh di tanah Maluku. Sebelumnya pada abad  keempat, pemimpin Dinansti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap yang mendekatinya untuk sebelumnya mengunyah cengkih, agar harumlah napasnya. Cengkih, pala dan merica sangatlah lah mahal pada zaman Romawi. Cengkih menjadi bahan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkih dengan perjanjian Todersillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian sultan Ternate. Orang Portugis membawa banyak cengkih yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkih sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkih akhirnya di dominasi oleh orang Belanda pada abad  ke 17. Dengan susah payah orang Perancis berhasil membudayakan pohon cengkih di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Barasilia dan Zanzibar. Pada abad ke-17 dan  ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor. Sebab disana cengkih dijadikan salah satu bahan makanan yang sangat berkhasiat bagi warga dan sekitarnya yang mengosumsi tanaman cengkih tersebut. Sampai sekarang cengkih menjadi salah satu bahan yang diekspor keluar negeri. Didalam bunga dan buah cengkih juga mengandung bahan aktif. Terdapat minyak esensial dari cengkih mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkih sering digunakan untuk menghilangkan bau napas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkih yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenagkan saraf gigi. Minyak cengkih juga digunakan dalam campuran  tradisional chojiyu (1% minyak cengkih dalam minyak mineral; choji berarti cengkih; “yu berati minyak) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang meraka.[9] Saya sebagai anak yang berdarah Maluku merasa malu. Kalau tidak tahu -menahusoal sejarah kekayaan alam di Maluku ini.

Dari cerita diatas,bahwa tanaman tradisional lah yang paling ampuh untuk penyembuhan berbagai penyakit serta membuat tubuh selalu segar dan awet. Mengutip bang Dudi bahwa; “semua tanaman ada fungsi dan kegunaannya masing-masing. Cuman kitanya yang belum tahu saja.”

Sebuah pesan dari bang Dudi kearifan budaya tradisional harus diangkat lagi. Menurutnya kebanyakan orang senang dengan obat-obatan indutsri yang serba instan. Yang sudah dicampuradukkan dengan beberapa zat kimia. Ini sangat berbahaya, karena ada beberapa tanaman obat, apabila kita pisahkan satu-satu malah bisa menjadi racun. Didalam tanaman mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang bisa mengusir dingin, panas, racun dan virus. Dan tanaman ini tidak mengandung karakter zat kimia.

Mengutip Surya Saluang “apabila obat herbal tradisional di kampung hilang, maka ruang hidup kampung juga akan hilang.”[10] Dengan brutalnya pemangkasan hutan yang terjadi hampir disetiap kampung. Dimana didalam hutan tumbuh segala macam tumbuhan. Salah satu pegangan bagi orang kampung yaitu tumbuhan dan segala macam obat nabati-hewani, perlu dijaga dan selalu dirawat. Obat tradisional menjadi alas penting bagi kehidupan yang panjang. Khususnya di kampung-kampung yang masih jauh terjangkau oleh rumah sakit. Saya kira dengan melihat kembali dan mempelajari lagi obat-obat tradisional di kampung masing-masing, agar bisa menjadi satu kegunaan yang utuh. Tanpa harus bergantung, antre dan menunggu dokter siapa yang akan datang menyembuhkan pennyakit kita.

Pekerjaan besarnya bagi kami yang akan pulang kampung. Dari pengalaman sepintas belajar di Taman Sringanis ini. Harapannya yaitu kami bisa pulang ke kampung dan gali lagi nama-nama obat tradisional dan mengenalnya secara langsung di kampung kami masing-masing. Bukan cuman menggali dan mengenanlnya tetapi kemudian diterapkan. Melihat tanaman-tanaman di Taman Sringanis ini. Membuat saya termotifasi ketika pulang kampung nanti akan belajar lagi tentang obat tradisional di kampung saya sendiri.

Malabar: 22 Bogor, 25 Maret 2016 (17.13 WIB)

 

 

 

 

[1] Bang Dudi adalah salah satu petugas di Taman Sringanis. Awalnya pada tahun 2004 ia bersama teman-temannya melakukan kunjungan dan sempat bekerja sama dengan Taman Sringanis ini. Dari beberapa temannya ia sendiri yang menetap di taman Sringanis, sampai sekarang. Ia sekarang mengurus bagian administrasi, seperti menulis dan mencetak buku-buku tanaman herbal. Melalui pendekatan dan kosep karakter tanaman ia juga banyak tahu tentang sifat dan fungsi dari tanaman tersebut.

[2] Kami dari berbagai Daerah. Saya dan Ibu Sariwati dari Kabupaten Halmahera Timur (Buli-Mabapura), Ojil dari Halmahera Utara (Tobelo), Abal dari Kabupaten Taliabo. Nama-nama daerah ini berada di Propinsi Maluku Utara. Uthin dan Ardi berasal dari Daerah Kabuaten Banggai, Sulawesi Tengah dan Iham berasal dari Jawa Timur.

[3] Sumber: http://infoobattradisonal.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-dan-macam-macam-tanaman-obat.html. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016

[4] Sumber: http://www.indoplaces.com/mod.php?mod=indonesia&op=view_region&regid=1634. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016.

[5] Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/27/408/418539/mereguk-khasiat-herbal-di-taman-sringanis. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016

[6] Taman Sringanis berlokasi di Cimanegah No.29 Rt.04/05, Cipkau, Bogor Selatan, Bogor. Letaknya yang dekat di dekat Gunung Salak membuat Taman Sringnis terasa sejuk. Meski mungil, taman dengan puluhan koleksi tanaman herbal ini sudah dikunjungi ribuan orang sejak dibuat pada 1992. (Sumber: Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/27/408/418539/mereguk-khasiat-herbal-di-taman-sringanis. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016)

[7] Lihat: Luther Masang dalam tesisnya, “Strategi Pengembangan Agrowisata Obat Tradisional Taman Sringanis Bogor.” Hal.26.

[8] Sambiloto (Andrographis paniculata) memiliki sifat melindungi hati (hipoteraktif) dan terbukti mampu hati dari efek negatif galaktosamin dan parasetamol. Selain berkhasiat melindungi hati, sambiloto juga dapat menekan pertumbuhan sel kanker. Selain itu khasiat sambiloto untuk pengobatan ini sudah diketahui sejak nenek moyang kita. Biasanya pemanfaatan sambiloto dengan merebus daunnya untuk menurunkan demam, mengobati luka, sakit kuning, kencing manis, pilek, infeksi tenggorokan, saluran kemih, keputihan, menyembuhkan luka/borok dan sebagainya. (Sumber: http://infoobattradisonal.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-dan-macam-macam-tanaman-obat.html. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016).

 

[9] Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pertengahan. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2016.

[10] Dalam catatan harian, A.Maneke pada 13 Maret 2016 (16.33 WIB). Bacarita agenda untuk pergi ke Taman Sringanis sewaktu masih di Malabar:22 Bogor.

Proses Menuju Nol

Maaf cara membaca saya masih kaku. Cara menangkap dan memberi kesimpulan masih sangat lambat. Cara aku menuangkan, cara penglihatan untuk mengngungkapkan,dan cara belajarku masih saja datar. Datar dan kering lalu pekat dari isi buku yang pernah aku baca. Aku masih takut pada penilaian orang daripada penilaian terhadap diriku sendiri. Untuk apa juga buku dibeli hanya tersusun dan jarang sekali lembar buku itu dibuka. Bahkan ada yang tak sempat aku buka untuk dibaca. Ada satu tuduhan terhadap diriku sendiri; apakah buku itu sengaja dibeli dan disusun dirak buku hanya demi mendapatkan pujian dari orang? Atau sengaja buku dibeli untuk diperlihatkan sekiranya aku rajin membaca dan belajar? Atau hanya hobi mengoleksi lalu menyusunnya seperti batu bata diatas rak itu? Disatu sisi pujian itu seperti tong sampah yang setiap saat diserbu oleh lalat.

Tetapi pertanyaan sederhana itu mengundang batinku untuk berdiskusi. Bukan saja untuk mengetahui siapa diriku namun perlu mengetahui siapa aku. Apakah perlu dicambuk? Siapa yang dicambuk? Kenapa harus dicambuk? Bukankah belajar dan memahami satu pengetahuan atas kemauan kita sendiri? Apakah memang belajar perlu seorang Guru? Ataukah belajar hanya dengan pengalaman saja? bukankah pengalaman adalah guru yang hidup? Tentu guru dan pengalaman harus berjalan seimbang. Mengutip Sajogyo dalam bukunya Ekososilogi “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (ilmu itu terbangun laksana oleh karena praktik perbuatan).[1] Bahwa ilmu itu bukan datang hanya kala teori yang terpaku dalam pikiran lalu diomongkan lewat mulut saja. Namun yang paling penting tentu pengalaman, kelima panca indra harus terbuka dan merasani, dipegang langsung, digosok-gosok sampai panas perlahan keluar asap dan terpantik api. Jangan tanyakan padaku jikalau suatu ketika api itu padam karena aku yang menyiraminya; semangat belajar yang bersifat panas tahi ayam.

Seperti mengutip cerita dalam buku “Bumi Manusia” yang ditulis oleh seorang sastrawan Indonesia Pramoedaya Ananta Toer; percakapan antara Magda Peters[2] dan Nyai Ontosoroh[3] dalam sebuah perpustakaan Herman Millema[4]. Magda Peters menanyakan kepada Nyai Ontosoroh “Kenapa didalam perpustaakaan ini tak ada satupun Sastra Belanda?” Tuannku tak terlalu tertarik, kecuali orang-orang Vlaam[5],” jawab Nyai. “Apa sebab Tuan Millema tak suka pada karya-karya Belanda,kalau boleh bertanya?” Tak tahulah Jeffrow hanya ia pernah bilang, terlalu kecil mengecil, tidak semangat, tidak ada api”. (Lihat halaman 344-345)

Saya menyimpulkan sementara; bahwa belajar itu butuh ketertarikan dan tujuan tentang apa yang kita sukai. Maka hal kecil kemudian membesar lalu timbul semangat seperti si jago-merah yang siap membakar apa saja ketika angin terus-menerus mengelus, lalu semangat belajar menjadi satu pengetahuan yang utuh kalau itu kita yang agendakan sendiri. Mungkin agak jauh dan tidak masuk akal dari turunan cerita ini. Entahlah saya mencoba saja.

Istilah-istilah yang kupakai bersifat melatah, tak tahu apa tujuan dari istilah itu. Apakah untuk memperjual belikan kata-kata? Mengutip Hendro Sangkoyo[6] setelah didengar dan ditulis mungkin; “ketika kita lupa akan sejarah dan istilah kampung kita sendiri. Maka ini adalah suatu peristiwa yang dramatis, sekali terjadi lenyap sudah. Hilang dari proses sejarah bahasa orang kampung, malah kita bangga akan dengan istila-istila kebarat-baratan tanpa kita pahami apa maksud dan isi dari istilah tersebut. Yang terjadi malah kita hanya belanja kata-kata ( discourse shooping).”[7]

Mengkomsusi istilah membuat saya kalah akan memunculkan kemandirina kata-kata saya sendiri. Apakah ketika aku tak banyak hafal atau menguasai banyak istilah keren, yang biasa dipakai oleh para aktifis, dosen, mahasiswa atau para pemberontak dan haus akan ilmu lainnya,saat itu juga aku akan dianggap kuno kampungan? Saya juga tidak tahu dan tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan saya sendiri.

Semua hanya menjadi perdebatan sesaat. Bukan! Bukan sesaat tetapi seterusnya selama saya masih lemah memarahi diriku yang lemah dan tak mampu keluar melirik dunia dan menuliskannya. Menuliskannya! Dan menjadi bacaan buat saya sendiri. Tak perlu diperdebatkan oleh oleh orang lain siapa aku. Tentu akan sulit dan sukar untuk memahami hati orang jikalau mengenalnya hanya dari cerita orang atau hanya melihat sampul terbungkus kulitnya atau juga hanya sesekali mendengar pikirannya yang masih samar (kabur). Entah lah tak mampu juga aku terkjemahkan.

Diam-diam ku-tertawakan dengan pikiranku sendiri. Diam-diam ku-perkosa tubuh ini sendiri dengan kemauan yang belum tentu terjadi. Diam-diam saya menelanjangi sifat-ku sendiri dan menontonya dari balik cermin. Lalu diam-diam aku malu pada diriku dan bertanya siapa diriku? Untuk apa saya dilahirkan dan untuk siapa aku numpang bercerita berbagi beban?

Cukup dengan diam saja. Kata-kata itu memukul dari dalam. Menghinaku dari dalam serta meludahi atas pikiranku yang kuno dan kampungan? Siapa yang bilang tak sekolah maka dijuluki sebagai seorang buta huruf atau kampungan? Julukan itu kiranya dulu. Dulu saja! Dan memang lebih baik sekarang tak perlu sekolah untuk mengejar membaca-menulis-menghitng (3M). Jikalau pada akhirnya pengetahuan itu disimpan dalam tabungan di bank sana. Pengetahuan yang mana yang saya bicarakan. Tentu pengetahuan yang belum pasti, pengetahuan dari tubuh orang lain dan dipasangkan secara paksa pada tubuhku sendiri.

Meraung-raung, mengaung, menggongong, menangis, tertawa dan marah. Itu menjadi satu-kesatuan yang selalu melekat pada tubuh seorang manusia. Meraung karena dunia selalu melirik sifat ini yang berlaga. Sok tahu! Mengaung dikala rembulan datang menyampaikan kalau kelaparanku dibuat-buat. Menggongong karena ada yang lebih cerdas dan tajam. Menangis bukan karena kehilangan orang yang disanyangi tetapi karena hilangnya sifat manusianya yang alami. Tertawa karena lucu dengan sifat yang sombong akan kemelatahan pengetahuan dan marah ketika diberi nasehat oleh orang yang mempunyai kerendahan hati melebihi diriku.

Sayang! Aku sekarang tidak tahu kemana kapal yang membawa pikiran dan cita-citaku akan berlabuh. Biarlah kapal itu terus mengelilingi samudra sampai ia merasa muak dan jenuh lalu berhenti  di dermaga karena pintanya angin. Entah terdampar di pesisir bumi manusia mana saja. Disitulah; mungkin akhir kesimpulan sementara dari cara bacaku yang masih secuil debu, hilang ketika angin menyambar.

Aku sadar bahwa pengetahuanku belum sampai pada angka 0. Masih dalam proses. Ya proses menuju 0. Sekiranya perlu lebih banyak belajar lagi untuk memahami kenapa angka nol bentuknya bukan bulat tetapi lonjong? Atau memang bulat? Atau memang lonjong? Bisa jadi kotak? Jangan dulu bertanya tentang angka nol, yang menjadi pertanyaan inti adalah siapa aku, dan kenapa aku harus mempertanyakan kenapa aku harus belajar? Apa yang akan aku dapat dari membaca dan melakukan hal-hal dalam yang bentuknya tulisan, dibaca lalu menulis? Apa pentingnya menulis?

Mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Surya Saluang ketika belajar menulis di Malabar:22 (SAINS). Setelah ku-dengar lalu ku-tulis. Mungkin begini;

“Perlu diingat dan dipahami bahwa; menulis yang kita  belajar bukan seperti menulis yang ada di kampus-kampus atau tulisan yang nantinya terkenal. Pencaplokan tulisan orang dalam menulis adalah orang yang memperdaya pikiran yang kacaunya sendiri. Rata-rata kita di Indonesia dalam menulis masih menggunakan bahasa Ibu. Menulis seperti ini adalah “kekayaan teknik” dalam menulis. Perlu dipertahankan, tinggal dibina lebih dalam lagi, pasti menimbulkan suatu tulisan yang berbeda.

Menulis adalah sikap hidup dan menstrukturkan pikiran. Menulis sama baiknya seperti kita memasak didapur, dari proses memotong tomat, cabe, bawang, kemudian diamasukkan kedalam wajan yang sebelumnya sudah dipanaskan dengan minyak goreng, kemudian diaduk-aduk sampai matang, dikasih bumbu perasa, diangkat ke atas mangkok serta dihidangkan diatas meja.

Menulis adalah sikap hidup yang kita lalui sehari-hari. Kebanyakan kebiasaan kita dalam menulis, masih terjebak pada istilah-istilah yang kita sendiri tidak paham. Menulis sangat penting sama halnya seperti seorang tukang bangunan; Ia tidak belajar bagaimana cara memukul palu yang baik dan benar. Namun karena kebiasaan si-tukang adalah memukul palu ke paku, pada akhirnya walaupun Ia tidak melihat palu pada saat memukul ke paku tersebut namun tangannya jarang sekali untuk terkena palu[8].”

Tentu menulis sangat penting. Dengan menulis kita bisa menata pikiran, menantang dunia, menggemgam dunia dan bisa menjadi siapa saja. Maka dengan menulis aku akan menjadi kaya akan pengetahuan. Bukan kaya akan uang!  Lantas untuk apa semua itu ditulis? Setidaknya untuk menulis sejarah hidupku sendiri. Setidaknya menjadi satu tanda goresan untuk hidupku yang hanya satu kali ini. Sayang kalau tidak menulis maka tak sampai-samapilah aku pada angka nol tersebut.

Asrama IPM-HT Bogor, 6 Februari 2016 (-05.51WIB)

 

[1] Ekososiologi, Deidologisasi Teori Restrukturisasi Aksi. Kata Pengantar “Dasa Windu Guru Besar Sosial”. Hal. vi

[2] Guru Sastra Belanda Mynke di sekolah H.B.S (Dikisahkan dalam cerita Bumi Manusia)

[3] Ibu Annelies Millema (Perempuan yang memiliki paras kecantikannya melebihi Ratu Wilhelmina) Diceritakan dalam buku.

[4] Suami tidak syah dari Nyai Ontosoroh, ayah Annelis. (Diceritakan dalam buku)

[5] Belanda bagian selatan, bergabung dengan Belgia dan menjadi bagian utara Belgia (Masih kutipan dalam buku)

[6] Pelajar di Sekolah Ekonomika Demokratik.

[7] Waktu presentasi catatan lapang, Hendro Sangkoyo menjadi penanggap (ekspert rivew). Di Malabar:22 Sajogyo Instute pada 28 Januari 2016.

[8] Sayangnya saat itu saya tidak sempat menulis tanggal dan jamnya.

Sepintas Saja

Semua menjadi kering dan pekat. Film satu demi satu telah kutonton. Bicara dari hal baik sampai buruk telah aku alami, dengar dan rasa. Dari kaya sampai miskin dan termiskin telah aku lihat dalam film dan dibuku bacaan. Entah itu semua nyata atau hanya fiksi aku tak tahu. Semua menjadi datar, saling menatap dan melirik satu sama lain dengan penuh-harap kemudian berubah tajam. Saling memenjarakan hati-pikiran-jiwa. Tatapan itu seperti tatapan elang, yang ditatapnya kembali meradang dalam jiwa, seakan kedua bola mata keluar dan terkadang masuk kembali ke hati.

Kesedihan dan kesenangan hanya terjadi pada saat-saat pertunjukan, dari cerita siapa dan kisah siapa yang diceritakan. Kebahagiaan bukan kebahagiaan bersama lagi, tetapi kebahagiaan palsu. Pada akhirnya masing-masing lupa dan mempertahan diri untuk hidup terus kedepannya. Hidup terus kedepan, kebelakang hanya pengulangan kisah, kejadian dan pengalaman. Tetapi hidup tetap berjalan tanpa ada kesepakatan.

Waktu tak mengenal dan tak sudi untuk berhenti sejenak. Waktu tak mengenal siapa yang paling berkuasa, tak mengenal mahluk hidup mana pula mempunyai kerajaan sampai-sampai menongka langit. Waktu tak kenal mana hewan mana manusia, mana kaya mana miskin, mana kenyang mana lapar, mana baik mana buruk, tak kenal mana pelacur mana hijab, mana ustad mana preman, tak kenal mana presiden mana rakyat, mana sekolah mana gubuk. Ia akan terus berjalan seperti sifatnya air yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah.

Sampai suatu waktu, waktulah yang menjadi penentu hidup kedepan dan mematikan semua impian kita, ketika sampai pada alam ketiga, jiwa direnggut oleh Yang Maha Pencipta. Saat itu juga waktu menjadi sejarah penting yang perlu diceritakan dan dihidupkan kembali melalui mata, rasa, pendengaran, penciuman dan pikiran bagi pendengar-pengedar masa lalu dan yang akan datang.

Asrama IPM-HT Bogor, 5 Februari 2016 (-11.20 WIB)